Pages

Jumat, 25 Mei 2012

KISAH DUA (bag.3)


Konsentrasiku buyar sama sekali. Dalam kepalaku terbayang-bayang editan yang mesti diselesaikan, Anom yang harus dijaga, dan Pak Rusdi. Satu nama di belakanglah penyebab utamanya.
Dia datang lagi, dari masa lalu yang berusaha kutinggalkan.
Dan kini aku teringat lagi pada mata penuh misteri yang dari luar tampak berbinar, tapi sebenarnya menyimpan berbagai kisah penuh liku.
Aku heran, kenapa mata itu mesti menurun kepada Anom, yang rupanya sama sekali tidak sulit ditangani. Sesudah diberi pengertian bahwa aku ada pekerjaan, ia duduk manis dan memainkan handphone-ku yang lumayan banyak berisi games.
Barangkali Anom sudah biasa bersama ayahnya, manusia yang sepertinya lumayan sibuk. Pria yang baru kutahu ternyata sudah beranak. Karena bertahun-tahun lalu, ia cuma laki-laki pendiam tidak humoris yang masa depannya tidak jelas.
Ia memiliki sepasang mata yang sangat unik. Menarik perhatian, memancing penasaran. Mungkin, aku memang sempat terpikat pada kedalaman mata tersebut. Tetapi lama-lama aku lelah menunggu sampai aku cukup pintar dan dapat menebak apa yang sebenarnya terungkap dari matanya.
DUH! Kenapa aku jadi melankolis begini? Lebih baik aku bersikap nyata. Aku harus bekerja!
Kutengok Anom di atas sofa lobi kantor. Dia tenang-tenang saja memandangi layar telepon genggam. Anak modern. Diberi gadget langsung mingkem. Tidakkah ia tahu betapa kalutnya jiwa pengasuh bodohnya ini?
Ngomong-ngomong, seperti apa ya, ibu Anom? Apakah ia wanita yang berhasil meluluhkan seorang Pak Rusdi dan sukses menebak isi hati pria (sok) misterius itu?
Aku menggelengkan kepala keras-keras. Keterlaluan. Aku tak mungkin menyelesaikan apa-apa kalau pikiran berkelana kian kemari begini. Akhirnya kupaksakan diri fokus ke komputer lipatku, sefokus Anom. Kuuraikan masalah-masalah dalam pengeditan dan sebisa mungkin bergerak cepat.
Tapi, Anom mengejutkanku, “Kak Rini, ada telepon.”
Oh, iya,” aku menerima sodoran telepon genggam yang asyik menari-nari dan bernyanyi. Lagu kesukaanku. Tak sempat kulihat nama penerima. “Halo?”
Selamat pagi, kami dari bank...”
Tanpa banyak berpikir aku menekan tombol bersimbol merah. Pasti sebentar lagi pembicara telepon tersebut berceloteh panjang mempromosikan produk baru banknya. Anom memandangiku dengan cara yang menyerupai Pak Rusdi.
Kamu masih mau main?” aku memberikan HP-ku padanya.
Nggak, Kak.”
Kenapa? Game-nya udah habis, ya?” aku tersenyum satir. “Sekarang Anom mau ngapain?”
Ia mengangkat bahunya, bingung. Aku sama bingungnya. Lantas sejurus ide meluncur di kepalaku. “Kita jalan-jalan ke luar, yuk, lihat-lihat? Tuh, mumpung cerah.”
Anom setuju. Aku mematikan komputer lipatku, sudah tidak sanggup dan butuh tambahan oksigen—selain pikiran berantakan. Kumasukkan tas dan tahu-tahu saja aku sudah menerobos pintu kantor dan mulai celingukan ke jalanan. Di dekat sini ada kedai es krim enak yang buka dari pagi. Anak kecil pasti suka es krim!
Anom, kamu boleh makan es krim nggak, sama ayah?”
Nggak boleh, soalnya Anom baru sembuh batuk.”
Aku sudah hampir membual dan bilang bahwa es krim dapat menyembuhkan batuk, karena kurasa aku benar-benar butuh makanan dingin supaya kepalaku adem. Tapi demi kesopanan, kuurungkan niatku.
Kalau gitu yuk, kita jalan-jalan aja. Bilang kakak ya, kalau Anom pingin mampir ke salah satu toko atau pingin jajan.”
Anom nggak boleh jajan. Kata Papa, cuma boleh makan di kantin kantor Om Braman.”
Oh, oke. Kita cuma jalan-jalan sebentar, nanti jam dua belas kita makan di situ, ya, Anom?”
Ya, Kak.”
Pak Rusdi sungguh ketat dan sungguh seorang ayah. Ajaib. Aku tidak pernah menyangka dia punya sifat begitu. Setidaknya, selama aku mengenalnya dalam waktu singkat, ia bahkan tidak menunjukkan gejala sanggup menjadi seorang ayah... 
Kami berjalan cukup jauh hingga ke ujung jalan dan di perempatan, kami berputar balik karena Anom tampak lumayan capek.  "Papa pulang jam berapa, Kak?" mendadak ia bertanya.  
"Hm," aku berusaha mencari jawaban karena sejujurnya tidak tahu.  "Mungkin agak sore."
"Anom diajak ke Bandung, tapi nggak tahu kenapa Papa perlu ke sini."
"Lho? Papa nggak bilang ke Anom?"
"Nggak.  Kayaknya Papa mau ketemu orang, tapi Anom nggak kenal."
Aku mengangguk-angguk salah tingkah.  Ternyata Pak Rusdi tetap misterius.  Bahkan kepada anaknya sendiri! Dia benar-benar parah.