Pages

Kamis, 01 September 2011

KISAH DUA (bag.2)

Besoknya, bukannya datang dengan ide permainan atau apa, aku malah datang dengan pekerjaan dadakan.  Ada yang lupa di edit.  Bukan kesalahanku.  Pihak mereka yang lupa memasukkannya ke dalam tumpukan pekerjaan.  Dan deadlinenya hebat sekali!  Nanti sore.
Aku melangkah besar-besar karena, khusus hari ini, aku pakai celana bahan.  Aku kurang suka tampilan maskulin macam ini, tapi lebih baik mungkin ada baiknya aku siap berlari kapan saja.  Siapa tahu anak titipan itu hiperaktif atau apa...
Pukul tujuh lebih lima puluh empat hak sepatuku, yang mulai tumpul ujungnya, menginjak ruang yang ditempeli pintu bernama “Braman Anjali S.E. M.M.”.
“Ni, udah sarapan?” tanya Braman saat aku menutup pintu dengan hati-hati.
“Udah... udah...  Kamu?”  Aku melenggang untuk duduk di depannya.
“Udah dong...”
“Hmm...”
Braman diam.  Aku diam.  Dia kembali membaca sebuah laporan yang terjepit di dalam map hitam.  Aku kembali teringat pekerjaanku di dalam tas.
“Bram, aku sambil nunggu sambil ngerjain kerjaan, ya...” pintaku sungkan.
“Lho?!”  Braman segera menurunkan berkas bacaannya, “Kamu ada kerjaan, Ni? Kok nggak ngomong!” protesnya dengan suara keras.  “Gimana dong?  Aduuh... sorry banget...”
Aku menggeleng dan tersenyum, “Nggak ‘pa-pa...  Cuma dikit kok.  Aku nggak ngomong soalnya ini dadakan, Bram.  Aku sendiri baru tahu tadi subuh...”
“Eh gila...  Terus?”  Alis Bram berkerut, “Deadlinenya kapan tuh?”
Sontak bahuku turun.  “Nanti sore.”  Sudah tidak kututup-tutupi lagi kekesalanku pada kondisi menyebalkan akibat kurangnya profesionalisme di tempatku bekerja.
“Gila!  Kok gitu sih?!  Ya udah, kamu beresin aja dulu kerjaannya, Ni.  Aku coba cari orang lain deh...”
“Mmm...  Memang anaknya nakal banget ya..?” tanyaku sambil menyipitkan mata.  Umur berapa sih sampe butuh ditemenin?  Aduuuh... jangan nakal dong...
“Nggak sih...  Anaknya baik kok.  Cuma agak gampang bosen aja.  Bawaannya ingin jalan-jalan melulu.  Makanya ada yang perlu ngawasin.” ungkap Braman.  Ia kembali bersandar pada punggung kursinya.
“Sip.  Aku bisa kok.” ucapku meyakinkan.
Bram menatapku ragu.  “Serius, Ni?”  Muka khawatirnya kembali nampak.
“Tenang aja...  Aku cuma perlu bikin revisi sedikit di sana-sini, terus tinggal di email, beres.”  Aku tersenyum menenangkan.
Braman terdiam menatap laporan di tangannya.
“Aku ada meeting setengah sembilan...  Nanti jam dua belas-an, aku jemput kamu berdua makan.  Selanjutnya anak itu bisa aku urus sendiri.  Aku nggak akan kemana-mana lagi abis jam makan siang.  Jadi kamu bisa pulang.”
Dasar Braman...  Dari dulu kecil, dia orangnya perhatian.  Kerjaan dia sudah pasti jauh lebih mengerikan dibanding pekerjaanku yang ringan.  Tidak seharusnya dia yang mengalah.
Aku mendesah, “Gini deh, Bram...  Kita lihat nanti.  Kalau anaknya bisa aku handle, aku bakal tetep ada disini sampe anak itu dijemput orang tuanya.  Kalau aku agak kewalahan, aku minta waktu dua jam buat kerja.  Oke?”
Bram merengut tidak setuju, tapi tidak membantah.  “Oke.  Kita lihat nanti aja.”
“Oh ya, kamu mau berangkat meeting jam berapa?”
Tok.  Tok.  Tok.
“Masuk.” ucap Braman spontan.
Kami berdua menatap ke arah pintu yang dibuka oleh seorang wanita berpakaian rapih dengan nampan berisi dua cangkir yang mengepul.  “Permisi, Pak.” kata perempuan itu dengan ramah.  Ia menaruh kedua cangkir berisi teh di hadapan kami dan membisikkan, “Silahkan.”
“’Makasih.” ucap kami berbarengan.  Lalu perempuan itu permisi pergi.  Belum juga pintu tertutup,...
“Om Braman...” panggil sebuah suara dari pintu. 
Aku segera membalikkan badan.
Di balik kusen pintu, muncul sebuah kepala yang seperti rambutan meledak.  Anak laki-laki itu bermata luar biasa.  ...Aku jatuh cinta.
Braman segera berdiri dari kursinya, “Heeey!  Masuk, Nom.”
Si “Nom” itu masuk dengan langkah tenang.  Mata besarnya hitam bercahaya dan ceria.  Dia mendekatiku, bukannya Braman.  Menyadari itu, Braman segera mengenalkanku pada anak ganteng ini.
“Ini, Kak Widarini, saudaranya Om.” ucap Braman.  Aku menghembuskan nafas lega.  Baik hati sekali dia menyebutkan “kak”, bukannya “tante”.
Aku memutar kursiku, kini menghadap Si “Nom”.
Tersenyum agak malu.  Ia mengulurkan tangan kanannya.  “Anom.”  Begitulah katanya.  Aku tersenyum lebar, penuh kebahagiaan.
“Halo, Anom.  Aku Rini.” kataku sambil menjabat tangannya yang hanya sedikit lebih kecil dari tanganku.  “Kamu kelas berapa?” tanyaku.
“Kelas empat.” jawabnya tenang.
Mulutku baru membentuk “O” dan hampir bersuara ketika, “Hey, Braman!!”.
Kami bertiga menoleh ke arah pintu.  Disana berdiri seorang laki-laki tampan yang besar dan rapih dengan setelan jas hitam.
Braman tersenyum lebar namun sopan.  Ia berjalan cepat menyongsong bosnya.  “Selamat pagi, Pak Rusdi.” ucapnya sambil menjabat tangan Pak Rusdi dengan mantap.  Syukurlah, tinggi badan mereka yang sepertinya sama membuat kepala Braman menutupiku dari pandangan Pak Rusdi.
Aku berdiri dari kursiku pelan-pelan.  Siap-siap diperkenalkan.
Braman berbalik,  tersenyum, masih sama lebarnya, kepadaku.  “Pak, ini sepupu saya, Widarini.  Ni, ini Pak Rusdi, bos-ku sekaligus bapaknya Anom.”
Aku tersenyum, walau senyumku sama sekali tidak sampai ke mata.
Pak Rusdi membelalakkan matanya.  Mata yang sama dengan Anom.  Mata yang sama dengan mata yang dulu sering kuteliti dan kuterka apa isinya.
Pak Rusdi mengerjapkan mata, lalu membuat senyum sopan.  “Halo.  Saya Rusdi.”  Ia mendekatiku hanya dengan satu langkah besar dan menjabat tanganku dengan mantap.  Tapi jemarinya mengantarkan ketidak-siapan hatinya.  Begitu juga dengan jemariku.  Kami tidak siap.  Tidak ada yang siap di dalam kejutan dan permainan nasib.