Pages

Rabu, 29 Juni 2011

KISAH DUA (bag.1)


Di bawah atap tukang fotokopi aku berteduh dari hujan rinai. Lupa bawa payung memang fatal sekali bagi penghuni negara tropis. Ah, memang sih, hujan negaraku tidak dapat diduga. Paginya cerah, siangnya bisa tiba-tiba hujan badai dibonusi butiran es.
Daripada berkeluh kesah, aku memilih untuk diam dan bersabar. Mas-mas yang sedang sibuk di depan mesin ditemani kertas-kertas dan berbagai perkakas kantor tampak tidak terpengaruh hujan sama sekali. Terdengar suara-suara listrik, dengungan, dan gesekan kertas atau gunting.
Tetapi aku hanya berfokus pada hujan. Aku ingin ia segera berhenti dan mengizinkanku pergi, karena aku benar-benar harus berangkat. Seseorang menungguku dalam kantornya di gedung berjarak tempuh dua puluh menit dari sini. Aku pengguna trotoar sejati, sehingga aku akan berjalan kaki menuju ke sana.
Hujan ini benar-benar menghambatku! Memang aroma ketika ia bersentuhan dengan tanah begitu segar...tetapi tetap saja. Terlampau lama berdiam, aku mulai termenung. Hanyut dalam lamunan tak keruan sampai akhirnya telingaku menyadari bahwa bunyi hujan sudah berhenti.
Aku pun melangkahkan kaki menuju tujuanku. Dua puluh menit kemudian, sebuah bangunan berlantai lima dengan gaya arsitektur agak kuno bercokol di depan mataku. Aku masuk melalui pintu kacanya, disenyumi oleh satpam dalam posisi istirahat di tempatnya.
Cepat aku memencet tombol elevator terdekat dan dalam sekejap sudah berada di lantai tiga. Aku berbelok ke kiri dan mengetuk pintu kedua sebelah kanan.
Masuk!” sahut seorang pria dari dalam.
Aku membiarkan pintu menjeblak dan sambil masih terengah-engah lelah, aku berkata-kata gagap, “Sori siang banget. Hujan!”
Nggak masalah.”
Laki-laki berjas biru tua itu bernama Braman. Dia kakak sepupuku. Tumben-tumbennya, mendadak ia meneleponku dan memintaku datang kemari, kantor cabang sebuah produsen makanan ringan. Katanya butuh bantuan, dan mumpung aku lagi di luar rumah ya sudah, aku tinggal ke kantor saja.
Duduk, Ni. Kamu mau minum?”
Aku menggeleng. Sembari duduk di kursi-bisa-berputar yang superbesar dan empuk, kuamati ruang pribadi kakak sepupuku. Keren juga. Aromanya enak, pajangannya berkelas...
Oh, iya, Ni, soal bantuan yang aku bilang ke kamu itu,” tukas Braman mengejutkanku. “Kamu bisa nggak, dititipin anak kecil?”
Anak kecil?”
Aku bukannya benci anak kecil, tapi kadang menjaga bocah bisa membakar kalori lebih banyak dari olahraga berat...
Iya, bosku ada seminar di Hyatt besok.  Dia bingung anaknya mau dikemanain karena kebetulan anak itu libur semesteran. Tuh anak di rumah sendiri gara-gara pembantunya juga lagi pulang kampung.  Jadi bapaknya pikir, mending ditaruh di kantor, lebih aman karena ada yang ngawasin. Sayangnya, semua orang di kantor ini sedang sibuk-sibuknya. Maklum, sebentar lagi liburan. Nah, kamu ada kegiatan besok?”
Aku terdiam menelan ludah. Kedengarannya gampang. Tapi aku harus menyiapkan mentalku. Sebagai editor freelance sebuah penerbit yang tidak terlalu ramai arus lalu lintasnya (jadi nggak banyak yang harus diedit, gitu), aku sih jelas tidak ada kegiatan. Baru saja minggu lalu pekerjaanku selesai dan belum ada yang perlu diurus lagi.
Oke, deh. Aku kosong kok,” sahutku tanpa banyak berpikir lagi. Siapa tahu anak kecilnya lucu. “Besok aku perlu ke sini jam berapa?”
Jam delapan pagi ya?” Braman tersenyum lebar. Kira-kira sepuluh senti ukuran cengirnya. “Kamu memang baik banget, Ni! Anaknya lucu kok. Dulu pernah main di sini juga.”
Aku mengulum mulutku dan membalas senyumnya. Ah, apa juga sih yang perlu ditakuti dari seorang bocah? Paling harus jaga-jaga biar dia nggak kabur. Mungkin aku harus menyiapkan permainan untuknya.  Ah, gimana besok deh! 







Jumat, 10 Juni 2011

KISAH SATU (bag.7)


Rego yang sudah siap berbalik dan kembali ke kelasnya menangkap keanehan pada Ramaniya.  “Ada apa?” tanyanya sambil duduk di bangku di depan meja Ramaniya.


Sore itu, atas saran Rego, Ramaniya pergi mencari Agus.  Memang tidak banyak yang bisa ia beri untuk Agus.  Juga akan terkesan congkak jika dia memberi Agus uang.  Jadi Ramaniya memutuskan untuk mentraktir Agus di warung Teh Laksmi.
Tidak mudah juga ternyata mencari Agus.  Setelah bertanya pada seorang banci lain, diketahui bahwa Agus punya shift malam.  Ramaniya memutar balik sepedanya sambil sibuk memikirkan cara lain.
Warteg Teh Laksmi!
Secepat motor Ramaniya melaju menuju warung Teh Laksmi.  Dan seperti dugaannya, tidak ada siapa-siapa disitu berhubung belum jam makan.
“Eh, Teteh!” sapa Laksmi.
Teh, saya mau nitip ini untuk A Agus, banci yang kemaren.” ujar Ramaniya sambil menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah.  Teh Laksmi menerimanya dengan bingung.
“Begini, saya cuma ingin nraktir A Agus, tapi saya susah ketemunya.  Jadi anggap saja saya bayarin A Agus makan pakai uang itu.  Tolong dikasih tahu ke A Agus ya.”
Teh Laksmi tersenyum, “Iya, Teh.  Pasti saya sampein.”
“Makasih, Teh Laksmi.” ujar Ramaniya dengan senyum lega.  “Oh, ya.  Tolong bilang juga, hape saya udah ketemu, gitu.”
“Iya, Teh.”
“Sama, kalau uangnya ada sisa, sisanya buat Teteh aja.”


Malam itu Agus makan dengan nikmat sekali.  Dia bisa makan banyak dengan daging, sayur, dan lainnya.  Dia yang biasanya minum teh tawar gratis, kini memesan jus.  Walau hanya hal kecil, sepiring rasa terimakasih Ramaniya membuat segala perjuangannya yang kemarin itu seperti terbayar lebih.
Dan setelah bercerita pada Ersya dan Emil, Ramaniya tidur lelap malam itu.

Tamat.