Pages

Jumat, 27 Mei 2011

KISAH SATU (bag.6)

Dua kepala, satu rasa. Itulah yang terjadi di sana momen ini. Agus dan Ramaniya sama-sama kecewa bin putus asa. Begitu pun Emil dan Ersya terduduk lemas di onggokan sofa butut ruang tamu.
Tapi...tapi...apa Neng Ramaniya hilang hape?” ujar Agus terbata-bata.
Iya, tapi itu bukan hape saya,” sahut Ramaniya.
Mereka duduk berhadap-hadapan seperti dua orang dungu. Agus melamun memandangi telepon seluler dalam genggamannya, yang sekarang lagi-lagi berstatus 'tak bertuan'. Kali ini dia sungguh ingin putus asa dan memboyong saja benda berteknologi tersebut.
Sungguh ingin Agus bercerita emosional betapa berat perjuangannya menyusuri jalan mencari Ramaniya, sampai ditolak-tolak orang segala, mirip orang ikut multi level marketing, yang kadang beruntung kadang sial dikasih bantingan pintu atau wajah curiga. Mana ia sudah merepotkan pak hansip segala.
Ramaniya begitu bahagia dan penuh harapan waktu ia melihat muka Agus di ruang tamu kosannya. Ia sudah yakin bahwa nasibnya berubah saat itu juga. Ia percaya hapenya kembali. Tapi ia malah mendapati bahwa benda yang dibawa Agus bukan miliknya.
Hape itu nemu di mana, A?” tanya Emil sopan, memecah keheningan.
Di warteg tempat tadi saya ketemu Ramaniya. Pas di bawah meja tempat dia,” jawab Agus agak ketus karena kesal.
Lalu...?”
Lalu saya bawa! Masa dibuang? Orang gila kali!
Emil dan Ersya terperanjat mendengar omelan Agus yang logatnya sangat lelaki. Lantas Ramaniya tiba-tiba menyela, “Mending hapenya dinyalain, A, terus kita cek, siapa tahu di dalamnya ada foto yang punya atau petunjuk lain. Memang nggak sopan sih, tapi kalau nggak kayak gitu, repot juga.”
Kedua belahan pinang menjentikkan jari. Agus tersenyum dan melempar hape tersebut ke tangan Ramaniya.
Biar Ramaniya aja yang urus. Saya mah nggak ngerti teknologi!”
Tapi jangan pergi dulu ya, A Agus!” Emil memohon.
Agus menggerutu sedikit. Mulai jengah. “Iya deh, iya!”
Hening lagi mereka. Agak takut, Ramaniya memencet-mencet hape tersebut. Pertama, ia mencari folder foto-foto narsis, supaya tahu wajah pemiliknya, sebab dari wallpapernya yaitu foto pemandangan matahari terbenam, ia menyimpulkan kalau orang ini tidak berapa narsis.
Benar saja, bahkan folder foto-foto narsis pun tak ada! Yang ditemukannya hanya seonggok foto-foto pemandangan. Itu saja. Ramaniya langsung tahu bahwa pencarian/ orang ini akan sulit. Akhirnya dia berkata pasrah, “Kita balikin saja ke warteg, yuk? Siapa tahu yang punya ngambil lagi ke sana.”
Emil dan Ersya berpandangan. Lalu salah satu mencetus, “Iya, syukur-syukur yang punya teringat kepada warteg. Lah kamu, Ram, kok nggak kepikir tuh hape kamu mungkin ketinggalan di warteg?”
Iya, sih, aku terlalu panik sampai ngelupain kegiatan masa lampau paling dekat...”
Agus memotong, “Jadi mau dibawa aja lagi ke warteg? Nggak apa-apa! Siapa yang besok pergi ke warteg?”
Ramaniya pun pasrah mengangkat tangannya, “Besok pagi sebelum pergi sekolah, aku bawain ke warteg deh. A Agus, sebelumnya saya minta maaf ya, karena udah ngerepotin.”
Lagi-lagi Agus trenyuh melihat muka memelas Ramaniya. Ia mengangguk pasrah. Ngomong-ngomong, Agus juga agak gelisah karena make up-nya luntur...
Dalam larutnya malam, kedua orang yang lelah itu sama-sama menghela nafas dan menghembuskannya sekencang angin Bohorok. Lantas Agus beranjak berdiri, “Ya sudah. Saya mah mau pulang dulu ya, Teteh? Nuhun pisan, sudah disambut ramai-ramai begini.”
Sekilas Ramaniya merasa tidak enak. Satu, ia sempat berprasangka macam-macam pada Agus. Dua, ternyata Agus orangnya baik sekali. Tiga, sekarang dalam keadaan kehilangan hape, ia mesti mengembalikan hape punya orang! Entah ini ironis atau hedonis atau kronis. Pusing. 
"Ramaenya, mudah-mudahan hapenya cepat ketemu ya.  Maaf nih, saya nggak bisa bantu..."
"Nggak apa-apa, A.  Aa udah baik banget kok, nganterin hape ini.  Maaf ya, ngeganggu kegiatan Aa," jawab Ramaniya. 
Sesaat Agus tersenyum ala bencong.   
Emil, Ersya, dan Ramaniya menghantar Agus ke pintu gerbang. Secepat kilat Agus hilang dari pandangan mereka, seketika sepi menghampiri. Belum apa-apa rasanya sudah rindu pula pada sosok 'meriah' itu.
Ramaniya berjalan terseok-seok lemas masuk kamarnya lagi. Besok ia harus bangun lebih pagi...


Begitu matahari menyembul menyinari kamar Ramaniya, sang mentari terkejut. Ya, Ramaniya telah menghilang dari kamarnya. Pagi sekali! Ia telah mandi dan bergegas menyiapkan keperluan sekolah lalu bersepeda ke warteg langganannya. Ia mengetuk pintu papan kayu warteg, yang bercat hijau toska pudar, berkondisi setengah terbuka. Mbak penjaga warteg sudah mulai menata makanan di balik kaca.
Teh! Puntenpermisi! Ieu jigana aya nu ketinggalan hape di dieusepertinya ada yang ketinggalan HP di sini. Kemarin dibawa sama Agus, temen saya, dikiranya hape saya, padahal bukan...,” jelas Ramaniya begitu si juru masak warteg tersebut menoleh.
Oh, si bencong eta?”
Si penjaga warteg mendekati Ramaniya dan dengan semangat menceritakan perbincangannya dengan Agus, adegan lempar-lemparan telepon genggam, sampai detik-detik kepergian Agus membawa sang hape. Ramaniya syok sendiri.
Perjuangan Agus terlalu berat kalau hasilnya hanya begini saja. Kering kerontang.
Jadi ini bukan hape Teteh? Duh, kalau gitu punya siapa atuh? Manya kudu keliling kota nyari yang punya?”
Ramaniya mengungkapkan ekspektasinya, “Mudah-mudahan sih yang punya balik ke sini, Teh. Teu nanaon, nya, titip di dieu?”
Akhirnya si Teteh mengangguk dengan seulas senyum datar. Sekarang hape itu berpindah tangan lagi kepadanya. Dipandangnya sang pelanggan berambut kriwil ini. Tiba-tiba ia sadar bahwa anak itu datang begitu pagi.
Udah sarapan belum, Teh?” ia pun bertanya. “Makan dulu, atuh?”
Ramaniya nyengir. “Belum, tapi saya mesti ke sekolah, euy. Udah, gitu dulu aja, Teh. Ngomong-ngomong Teteh namanya siapa ya?”
Saya? Laksmi!”
Ditekadkan dalam hati Ramaniya bahwa kali ini ia akan selamanya menghafalkan nama itu. Ramaniya menguraikan terima kasih dan waktu beranjak meninggalkan warteg, ia melihat sesosok orang yang dikenalnya nongol di hadapannya.
Lho, Ramaniya? Kamu baru sarapan?”
Itu adalah Mbak Nunik, sesama penghuni kostan yang semalam nampaknya tidak pulang.
Pagi, Mbak! Baru dari mana?”
Mbak Nunik mengenakan kaus oblong dan celana jins, menenteng tote bag besar menggembung, mungkin seragam kerjanya di pasar swalayan besar di Dago. Dan tanpa ditanya apa-apa, ia menyeroscos dengan logat Jawa Tengah mulai pudarnya:
Aku kemarin makan malam di warteg ini. Pas selesai makan, mau pulang ke kostan, aku cari-cari hapeku nggak ada! Makanya aku balik ke rumah temenku, siapa tahu ketinggalan di tempatnya, soalnya aku sempat mampir. Tapi nggak ada. Berhubung sudah kemaleman, ya, saya nginep dulu di sana, katanya bahaya kalau pulang larut, banyak bencong. Padahal aku udah siap meluncur ke warteg ini lho...”
Teh Laksmi histeris. Langsung ditunjukkannya hape tersebut ke Mbak Nunik, dan Mbak Nunik melompat senang sambil memekik. Memang ia orangnya ceroboh, tetapi kok, beruntung sih? Ramaniya merasa iri. Andai saja yang sedang melompat senang memekik-mekik itu dirinya. Lagipula, mengapa orang seperti Mbak Nunik, yang tenang-tenang saja dengan hapenya, malah mendapatkan kembali barangnya dengan selamat, mudah, dan damai? 
Sesudah menyaksikan penyelesaian masalah satu hari ini dan turut berbahagia, Ramaniya berjalan ke sekolahnya. Deg-degan menebak-nebak apakah ada kemungkinan hapenya tertinggal di sekolah. Dia sangat gelisah. Ia semakin berdebar saat melihat ambang pintu kelasnya. Tangannya bergetar waktu meraba laci bawah mejanya. Jantungnya berdegup waktu merasakan sesuatu bercokol di dalamnya.
Dan Ramaniya menjerit karena itu adalah kecoa! Ya ampun. Apakah ini pertanda buruk? Ramaniya lantas meletakkan tasnya, menyapa beberapa teman sekelasnya, lalu pergi ke lokasi selanjutnya. Ruang latihan band! Siapa tahu ia sedang iseng membuka tasnya di sana lalu gadget mungilnya itu terlontar keluar.
Ramaniya menelusuri ruangan berukuran sedang tersebut. Di kolong drum, kibor, di antara juntaian kabel-kabel adaptor...dan anehnya Ramaniya masih saja belum berjodoh dengan ponselnya.
Sekarang akhirnya Ramaniya betulan ingin menangis sejadi-jadinya. Sungguh. Ia harusnya lebih berhati-hati! Mestinya ia mengawasi sang hape dengan baik. Lunglai, Ramaniya berjalan kembali ke kelas. Direlakannya hape itu setulus hati.
Ia duduk di kelasnya dan mulai menyiapkan buku pelajaran. Siapa tahu ada PR yang terlupa atau apa. Tetapi ia tidak dapat berkonsentrasi dan tatapannya menerawang. Masih sedih juga rupanya.
Diingatnya Agus, yang berbaik hati mengunjungi kostannya demi mengantarkan hape. Dikenangnya Mbak Nunik tersenyum bahagia menemukan hapenya kembali. Diratapinya diri sendiri. Oh, hape, di manakah engkau berada?
Saat Ramaniya tercenung sendiri di kelas, teman bandnya, Rego, muncul tanpa disangka-sangka.
Oi! Ramaniya! Lo tuh nggak bisa jaga barang, apa? Nih, hape lo nyasar di tas gua!”
Mulut Ramaniya otomatis melongo sebesar lapangan voli (soalnya mulut Ramaniya kecil, nggak nyangup kalau mesti seukuran lapangan bola). Astaganaga! Jangan-jangan waktu menunggu saatnya latihan band, ia iseng lagi mengeluarkan hape, memainkannya tanpa sadar, dan mencemplungkannya dengan teknik salah alamat? Jika dipikir-pikir mungkin saja, karena Ramaniya memang suka tanpa sadar mengeluarkan hape tanpa tujuan kalau bosan, sekedar untuk dipegang-pegang, lalu menaruhnya begitu saja tanpa melihat lagi karena yakin pasti dimasukkan ke tas. Barangkali waktu itu Rego baru tiba, meletakkan tas di belakang Ramaniya, dan Ramaniya refleks mengembalikan hape ke tas setelah jenuh menanti Rego dan Tris...lantas bersiap membuat kegaduhan di sana, di studio...
Rego meletakkan Sang Tersangka hape Ramaniya di atas meja. “Gua nggak ngerti kenapa bisa ada di tas gua, tapi yang penting...ini barang balik ke lo.”
Perut Ramaniya dingin karena mencelos. Oh, betapa dia telah merepotkan Emil, Ersya, bahkan Agus—meski yang terakhir di luar dugaannya sama sekali. 

3 komentar:

Inez mengatakan...

Aieh! Tamat aja dong! Tamat!

Klo ga tamat, trus ini gimana Jeck?
Anti-klimaks?

Jeeeeckk!?! Gimana ini teeeh?!?!?

Ningrum mengatakan...

Hahahaha...

Hayo lho. Tadinya sih mau aku tamatin, tapi asa belum waktunya tamat. Yah, anggep aja antiklimaks.

:P

Selamat berjuang, cinta. :)

Inez mengatakan...

Btw, kok ga liat phonebook malah liat folder photo sih? XP

Post berikutnya isinya cm: TAMAT aja ya... :'(