Pages

Kamis, 05 Mei 2011

KISAH SATU (bag. 5)


Kurang dari lima puluh langkah berjalan, Agus sudah ingin menyerah.  Mana dia tahu rumah mana yang kost-kostan dan mana yang bukan?!  Agus kan bukan Pak RT!  Cacamarica rumah kost malam-malam itu sama saja dengan cacamarica jerami di tumpukan jarum, omel Agus dalam hati.
Ingin rasanya Agus menjerit dan membawa lari hape tipis itu kabur.  Tapi tadi dia sudah memutuskan untuk mengembalikan benda asing ini kepada pemiliknya.  “Aduuuh! Gemindang dooong?!”
HUSH! Ulah gogorowokan di tengah jalan!Hush! Jangan teriak-teriak di tengah jalan! Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar diiringi suara putaran rantai samar-samar.  Agus terperanjat dan segera berbalik, mendapati seorang bapak berseragam di atas sepedanya sedang melotot memandanginya.  “Astagong, Bapa...  Ulah ngareuwaskeun kitu dong ah! Coplok nih akika punya jantung!Astagong, Bapak... Jangan ngagetin gitu dong ah! Copot nih akika punya jantung! pekik Agus keluar genitnya.
Heh, lamun arek ngamen ulah didieu...Heh, kalau mau ngamen jangan disini... usir pak hansip to the point.
Sanes, Pa...  Ieu abdi bade ngajajapkeun hape nu tinggaleun.  Nanging abdi teu terang kostan anu gaduh hapena.Bukan, Pak... Ini saya mau nganterin hape yang ketinggalan.  Tapi saya nggak tahu kostan yang punya hapenya. Agus tersenyum sopan, berusaha menenangkan sikap permusuhan si pak hansip.
Terdiam sejenak, akhirnya pak hansip teryakinkan.  “Saha ngaranna?”Siapa namanya?
“Agus, Pa.”  Agus mengangguk sembari mengulurkan tangan.
Eee, lain...  Anu boga hape ngaranna saha?”Eee, bukan... Yang punya hape namanya siapa? tukas pak hansip sambil pura-pura tidak melihat tangan yang sedang terulur minta disambut itu.
“Oh, hehehe...  Ngaranna Ramayani, Pa.”  Agus nyengir sambil menarik kembali tangannya, “Sigana mah...Kayaknya sih... tambahnya agak lirih.
Karena pak hansip melemparkan tatapan curiga, Agus cepat-cepat menambahkan, “Tadi abdi ngan papanggih di warteg...  Nembe ‘ge kenal, Pa...Tadi saya cuma ketemu di warteg.  Baru juga kenal, Pak...
Pak hansip garuk-garuk kepala, “Wah, hese atuh neangannana ari kieu mah...Wah, susah dong nyarinya kalau gini sih...
Upami kostan dimana wae nya Pa?Kalau kostan dimana aja ya, Pak? tanya Agus mengabaikan reaksi negatif pak hansip.
Euh, loba atuh didieu mah...Yah, banyak disini sih... jawab pak hansip tidak banyak membantu.
Palih mana wae anu kostan putri teh, Pak?Yang mana saja yang kostan putri, Pak? pinta Agus semanis mungkin, masih berusaha.  Walaupun Agus sama sekali tidak manis, pak hansip diliputi dilema.  Beliau sebenarnya sudah ingin mengayuh sepedanya menjauh dari makhluk ini, tapi tidak enak hati kalau menolak begitu saja.  Ini juga demi kesejahteraan rakyat yang ia jaga setiap hari...
Mendesah, pak hansip berujar, “Nya enggeus, hayu atuh dicobaan weh..Ya sudah, ayo dicoba saja dulu..
Wah, hatur nuhun pisan, Bapa!Wah, makasih banget, Bapak!
Mimiti ti dinya heula.  Nu pager hideung.Dari situ dulu.  Yang pagar hitam. kata pak hansip sambil turun dari sepeda.  Sambil menuntun sepedanya, pak hansip berjalan menuju rumah besar yang ia tunjuk.  Agus mengikuti dengan langkah-langkah kecil.
Nu ieu, Pa?Yang ini, Pak?
Nya, sok atuh dibel.Ya, coba dibel.
Agus melongok-longok mencari tombol, karena tidak terlihat, akhirnya ia mengetuk-ngetukkan gembok pada pagar beberapa kali.
Dua kali mencoba, akhirnya pintu depan terbuka.  Seorang perempuan tambun keluar.  Begitu melihat Agus, matanya yang bulat menjadi semakin bulat.  “Ya?” tanyanya bingung sekaligus was-was.
“Malem, Teh, disini ada yang namanya Ramanyanyi?”
“Hah?”  Sang gadis tambun semakin bingung.
“Euh...  Anaknya masih SMA, rambutnya keriting panjang.”
“Nggak...  Nggak ada...” jawab gadis itu masih sama bingungnya.
“Ooh...  Ya udah kalau gitu.  Makasih ya.” ucap Agus sambil mengangguk gemulai.
“Iya..”  Masih tetap bingung, si tambun itu melayangkan pandangan bertanya pada pak hansip.  Pak hansip cuma bisa tersenyum terpaksa dan mengangguk.  “Mari, Teh...” ucap Agus sambil melenggang.  Pak hansip buru-buru mengikuti.
Mereka mencoba ke kostan berikutnya.  Kali ini bangunannya terkesan tua.  Di teras depan, ada seorang gadis yang sedang berbicara dengan handphone.
“Assalamualaikum.” ujar Agus saat mata gadis itu membelalak padanya.
Gadis itu segera berbisik-bisik lalu mematikan handphonenya.  Dia segera mendekati pagar setinggi dada yang berwarna cokelat tua diantara mereka.  “Ya, mbak?” tanya gadis itu sambil tersenyum-senyum geli.
“Aih, nggak usah manggil ‘mbak’ juga nggak apa-apa lhooo...” ujar Agus manja.  Sebenarnya cukup tersanjung juga dipanggil ‘mbak’.
“Ada apa ya ‘mas’?” tanya gadis itu lagi.  Masih tersenyum.
“Mau nanya nih, disini ada yang namanya Ramamia?” tanya Agus tidak yakin, “Mmm... Anak SMA, rambutnya keriwil.” tambahnya.
Gadis manis itu menggeleng, “Nggak ada tuh, mas.”
“Oooh... gitu ya...  Ya udah deh, makasih ya...  Lanjutin lagi deh telepon-teleponannya.” kata Agus sambil tersenyum lebar.  Si gadis tergelak, “Sama-sama...” jawabnya lembut.
Pak hansip segera berjalan lagi.  Agus kembali tergopoh-gopoh mengikuti.
Mereka mengunjungi tiga kostan lagi di sepanjang jalan itu.
“Nggak.  Nggak ada.” ujar pembuka pintu yang pertama jutek.  Ketara sekali dia tidak menyukai banci.  Bahkan belum juga Agus mengucapkan sederet kalimat penutup, wanita yang sepertinya pembantu disitu sudah bergegas kembali masuk ke dalam rumah.
“Ramaniah?” ujar seorang wanita mungil di kostan berikutnya takut-takut.
“Iya...” jawab Agus masih tidak yakin.
“SMA?” tanya wanita itu sambil sedikit-sedikit menggigiti kuku.  Alisnya mencuat ke atas seperti mengkhawatirkan sesuatu.
“Iya...” jawab Agus dengan senyum lembut, berusaha ramah.
“Keriting?” tanya wanita itu lagi.  Suaranya mengecil seperti tercekik.
“I..iya..” jawab Agus terbawa gugup.
“Panjang?”
Hadeeeuh...  Agus gemas.  “Nggak ada ya, mbak?  Ya udah, makasih ya.” ucap Agus tanpa menunggu gelengan dari wanita mungil yang ketakutan itu.  Pak hansip berusaha untuk tidak tertawa mengejek dibelakang Agus.
“Rimanana?!  Nggak ada!”  Brak.  Pintu berikutnya ditutup hanya empat detik setelah dibuka.  Agus dan pak hansip mendesah.
Ketiganya mengaku tidak menampung gadis SMA berambut keriting yang bernama Rimayani, Raminiah, atau pun Rimanana.  Agus kembali merasakan keinginan untuk menjerit sambil membawa handphone ceking itu kabur.  Dan pak hansip juga kembali merasakan keinginan untuk melompat ke atas sepedanya dan kabur dari jejadian bernama Agus itu secepatnya.  Tapi tidak ada yang kabur.  Keduanya berjalan lesu mengapit sepeda.
Mereka berbelok.
Eta nu pager bodas jeung nu aya tangkal lengkengna, eta teh kostan putri.  Maneh teruskeun sorangan, nya.  Mun teu papanggih wae, geus we cokot hapena.  Meureun rizkina maneh.Itu, yang pager putih sama yang ada pohon lengkengnya, kostan putri.  Kamu terusin sendiri ya.  Kalau nggak ketemu juga, ambil aja hapenya.  Mungkin rejekinya kamu. ujar pak hansip letih.
Agus ingin protes, tapi ditelannya kembali segumpal omelannya.  Sudah baik sekali pak hansip mau mengantarnya.  Maka dia tersenyum dan berkata, “Muhun, tos atuh.  Hatur nuhun nya, Pa.  Selamat bertugas lagi!”Ya udah.  Terima kasih banyak ya, Pak.  Selamat bertugas lagi!
Pak hansip mengangguk, lalu akhirnya menaiki sepedanya dan pergi.  Perjalanan sang waria mencari Ramaniya kini kembali sepi.  Agus semakin tertekan setelah ditinggal pak hansip.  Dalam hati, dia juga mulai ikut-ikutan menyetujui nasihat pak hansip.  Jika dari dua kostan di depan ini tidak ada gadis keriwil itu, handphone itu akan menjadi miliknya.  Titik.  ...’Koma’ sih...
Tek.  Tek.  Tek.  Lagi-lagi Agus tidak menemukan bel.
Tek.  Tek.  Tek.
Dari rumah besar yang kuno dengan deretan jendela, satu-satunya pintu terbuka.  Seorang gadis melongokkan kepalanya yang hampir bulat karena rambutnya mirip helm.
“Malem, Teh...” Agus tersenyum dan membuka mulut untuk meluncurkan berderet-deret kalimat tapi gadis itu membungkam Agus dengan suara kerasnya, “AGUS KAN?!” tanyanya secara ajaib dan penuh kegembiraan.
“Hoh?” tanya Agus otomatis karena shock.  Ada kemungkinan yang sangat besar bahwa gadis manis itu adalah titisan siluman atau mungkin muridnya Almarhum Mama Loren.  Mulut Agus sudah siap untuk membaca doa dan kakinya yang berotot kekar sudah siap untuk berlari dengan tenaga kuda, tapi ia tertahan oleh sebuah penampakan yang membuat segalanya menjadi semakin buruk.  Gadis itu membelah diri menjadi dua.
“Cari Ramaniya, ya?!” tanya yang satu lagi.
Ah, Agus mulai menyadari situasinya.  Dia tersenyum gugup dan mengangguk.  Melihatnya, kedua anak kembar itu tersenyum serupa dan berjalan cepat menyongsong Agus.  Salah satu dari mereka membukakan pagar.  “Masuk dulu, Agus.” ucapnya ramah sekali.
“Iya.” jawab Agus malah jadi gugup sekali.
“Mil, tolong bangunin si Ramaniya dong...” ucap yang membukakan Agus pagar.
“Oke.” ucap satunya lagi, lalu ia melompat-lompat masuk.
Gadis yang mengenalkan dirinya sebagai Ersya itu membawa Agus masuk dan menemaninya duduk di sofa kuno yang bau apek di ruang tamu mereka.  Gadis itu mengajaknya bicara dengan wajah penuh ketertarikan.  Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.  Pembawaannya yang ceria dan santai segera mencairkan ketegangan Agus.
“Agus?” tanya sebuah suara yang serak ditengah-tengah pembicaraan.
Agus menoleh dan mendapati si gadis keriwil yang dicari-carinya, berdiri dengan tampang kumal dan mengantuk.  Mulutnya tanpa sadar tertarik lebar.  “Ramaniya!” ucapnya, kali ini yakin karena sudah hafal.
“Ini, hape kamu ketinggalan!” ucap Agus sambil mengeluarkan handphone itu dengan semangat.
Ketiga gadis yang manis-manis itu terdiam.  Cukup lama hingga membuat Agus sesak nafas.  Untung kemudian salah satu bersuara.  “...Itu bukan hape saya...” ucap Ramaniya akhirnya.

7 komentar:

Inez mengatakan...

Hurrah! Akhirnya sob! Sorry ya.. Lelet gw ngerjainnya.. XP
Ucapan terima kasih dikhususkan bagi nyokap gw yang bantuin di bagian dialog antara pak hansip dan Agus. Gw ga ngerti bahasa Sunda, apalagi bahasa halusnya (yg dipake Agus).
Untuk Jeck, hwehehe.. nah loh, jadinya gini.. wkwkwk.. XP Maafkan..

Ningrum mengatakan...

Walahwakkk! Baiklah! Ik siap berjuang.

Tapi keren loh cuy! Aku ketawa-ketawa bacanya. Agus manis, deh.

Inez mengatakan...

^///^ Aduh.. jadi maluku deh akika, ck ck! *ketularan Agus..
Iya, gw jg jadi cinta sm Agus! <3
I LOVE AGUUUUS! Wkwkwkwk.. Long live banci! Huahahaha.. (Apa teh nama organisasi kita?)
Btw, sy td download2in template yg lumayan buat ALKISAH.. Kapan yuk kita coba2in.. :D
Blum didandanin nih blog.. :P
PS: Gw kirim email ke lu. Itu hadiah dr temen2nya Agus.. wkwkwkwk.. Smoga berguna ya bo! Aw! ;)
Salampelukciummanyun!

Ningrum mengatakan...

Hahaha! God save the bencongs? :))
Aduh, saya lupa dong, nama klub kita apa. KPB gitu? Klub Pembela Banci, ya? Mungkin... :D Iyaa! Terima kasih lho, bo! Akika merasa tertolong! salampelukciummanyun juga yaaa. ;)

maya mengatakan...

kocak bener ceritanya. dannnn.. ane bisa bljr bahasa sunda juga, hohoho....

Inez mengatakan...

Wah, Ka Maya mampiiir! Jeck! Jeck! Kenalin, ini K. Maya!
Heheh.. iya, tp kalo sy boleh saran sih, ga usah deh belajar Sunda.. SUSAH! Sy aja ga seneng! Wkwkwk..
Btw, 'cok' apaan sih? (tetep)

Ningrum mengatakan...

Wah, aku baru baca komen yang ini! :D Hahahaha...

Halo, Kak Maya! Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak komentar. :)