Pages

Jumat, 27 Mei 2011

KISAH SATU (bag.6)

Dua kepala, satu rasa. Itulah yang terjadi di sana momen ini. Agus dan Ramaniya sama-sama kecewa bin putus asa. Begitu pun Emil dan Ersya terduduk lemas di onggokan sofa butut ruang tamu.
Tapi...tapi...apa Neng Ramaniya hilang hape?” ujar Agus terbata-bata.
Iya, tapi itu bukan hape saya,” sahut Ramaniya.
Mereka duduk berhadap-hadapan seperti dua orang dungu. Agus melamun memandangi telepon seluler dalam genggamannya, yang sekarang lagi-lagi berstatus 'tak bertuan'. Kali ini dia sungguh ingin putus asa dan memboyong saja benda berteknologi tersebut.
Sungguh ingin Agus bercerita emosional betapa berat perjuangannya menyusuri jalan mencari Ramaniya, sampai ditolak-tolak orang segala, mirip orang ikut multi level marketing, yang kadang beruntung kadang sial dikasih bantingan pintu atau wajah curiga. Mana ia sudah merepotkan pak hansip segala.
Ramaniya begitu bahagia dan penuh harapan waktu ia melihat muka Agus di ruang tamu kosannya. Ia sudah yakin bahwa nasibnya berubah saat itu juga. Ia percaya hapenya kembali. Tapi ia malah mendapati bahwa benda yang dibawa Agus bukan miliknya.
Hape itu nemu di mana, A?” tanya Emil sopan, memecah keheningan.
Di warteg tempat tadi saya ketemu Ramaniya. Pas di bawah meja tempat dia,” jawab Agus agak ketus karena kesal.
Lalu...?”
Lalu saya bawa! Masa dibuang? Orang gila kali!
Emil dan Ersya terperanjat mendengar omelan Agus yang logatnya sangat lelaki. Lantas Ramaniya tiba-tiba menyela, “Mending hapenya dinyalain, A, terus kita cek, siapa tahu di dalamnya ada foto yang punya atau petunjuk lain. Memang nggak sopan sih, tapi kalau nggak kayak gitu, repot juga.”
Kedua belahan pinang menjentikkan jari. Agus tersenyum dan melempar hape tersebut ke tangan Ramaniya.
Biar Ramaniya aja yang urus. Saya mah nggak ngerti teknologi!”
Tapi jangan pergi dulu ya, A Agus!” Emil memohon.
Agus menggerutu sedikit. Mulai jengah. “Iya deh, iya!”
Hening lagi mereka. Agak takut, Ramaniya memencet-mencet hape tersebut. Pertama, ia mencari folder foto-foto narsis, supaya tahu wajah pemiliknya, sebab dari wallpapernya yaitu foto pemandangan matahari terbenam, ia menyimpulkan kalau orang ini tidak berapa narsis.
Benar saja, bahkan folder foto-foto narsis pun tak ada! Yang ditemukannya hanya seonggok foto-foto pemandangan. Itu saja. Ramaniya langsung tahu bahwa pencarian/ orang ini akan sulit. Akhirnya dia berkata pasrah, “Kita balikin saja ke warteg, yuk? Siapa tahu yang punya ngambil lagi ke sana.”
Emil dan Ersya berpandangan. Lalu salah satu mencetus, “Iya, syukur-syukur yang punya teringat kepada warteg. Lah kamu, Ram, kok nggak kepikir tuh hape kamu mungkin ketinggalan di warteg?”
Iya, sih, aku terlalu panik sampai ngelupain kegiatan masa lampau paling dekat...”
Agus memotong, “Jadi mau dibawa aja lagi ke warteg? Nggak apa-apa! Siapa yang besok pergi ke warteg?”
Ramaniya pun pasrah mengangkat tangannya, “Besok pagi sebelum pergi sekolah, aku bawain ke warteg deh. A Agus, sebelumnya saya minta maaf ya, karena udah ngerepotin.”
Lagi-lagi Agus trenyuh melihat muka memelas Ramaniya. Ia mengangguk pasrah. Ngomong-ngomong, Agus juga agak gelisah karena make up-nya luntur...
Dalam larutnya malam, kedua orang yang lelah itu sama-sama menghela nafas dan menghembuskannya sekencang angin Bohorok. Lantas Agus beranjak berdiri, “Ya sudah. Saya mah mau pulang dulu ya, Teteh? Nuhun pisan, sudah disambut ramai-ramai begini.”
Sekilas Ramaniya merasa tidak enak. Satu, ia sempat berprasangka macam-macam pada Agus. Dua, ternyata Agus orangnya baik sekali. Tiga, sekarang dalam keadaan kehilangan hape, ia mesti mengembalikan hape punya orang! Entah ini ironis atau hedonis atau kronis. Pusing. 
"Ramaenya, mudah-mudahan hapenya cepat ketemu ya.  Maaf nih, saya nggak bisa bantu..."
"Nggak apa-apa, A.  Aa udah baik banget kok, nganterin hape ini.  Maaf ya, ngeganggu kegiatan Aa," jawab Ramaniya. 
Sesaat Agus tersenyum ala bencong.   
Emil, Ersya, dan Ramaniya menghantar Agus ke pintu gerbang. Secepat kilat Agus hilang dari pandangan mereka, seketika sepi menghampiri. Belum apa-apa rasanya sudah rindu pula pada sosok 'meriah' itu.
Ramaniya berjalan terseok-seok lemas masuk kamarnya lagi. Besok ia harus bangun lebih pagi...


Begitu matahari menyembul menyinari kamar Ramaniya, sang mentari terkejut. Ya, Ramaniya telah menghilang dari kamarnya. Pagi sekali! Ia telah mandi dan bergegas menyiapkan keperluan sekolah lalu bersepeda ke warteg langganannya. Ia mengetuk pintu papan kayu warteg, yang bercat hijau toska pudar, berkondisi setengah terbuka. Mbak penjaga warteg sudah mulai menata makanan di balik kaca.
Teh! Puntenpermisi! Ieu jigana aya nu ketinggalan hape di dieusepertinya ada yang ketinggalan HP di sini. Kemarin dibawa sama Agus, temen saya, dikiranya hape saya, padahal bukan...,” jelas Ramaniya begitu si juru masak warteg tersebut menoleh.
Oh, si bencong eta?”
Si penjaga warteg mendekati Ramaniya dan dengan semangat menceritakan perbincangannya dengan Agus, adegan lempar-lemparan telepon genggam, sampai detik-detik kepergian Agus membawa sang hape. Ramaniya syok sendiri.
Perjuangan Agus terlalu berat kalau hasilnya hanya begini saja. Kering kerontang.
Jadi ini bukan hape Teteh? Duh, kalau gitu punya siapa atuh? Manya kudu keliling kota nyari yang punya?”
Ramaniya mengungkapkan ekspektasinya, “Mudah-mudahan sih yang punya balik ke sini, Teh. Teu nanaon, nya, titip di dieu?”
Akhirnya si Teteh mengangguk dengan seulas senyum datar. Sekarang hape itu berpindah tangan lagi kepadanya. Dipandangnya sang pelanggan berambut kriwil ini. Tiba-tiba ia sadar bahwa anak itu datang begitu pagi.
Udah sarapan belum, Teh?” ia pun bertanya. “Makan dulu, atuh?”
Ramaniya nyengir. “Belum, tapi saya mesti ke sekolah, euy. Udah, gitu dulu aja, Teh. Ngomong-ngomong Teteh namanya siapa ya?”
Saya? Laksmi!”
Ditekadkan dalam hati Ramaniya bahwa kali ini ia akan selamanya menghafalkan nama itu. Ramaniya menguraikan terima kasih dan waktu beranjak meninggalkan warteg, ia melihat sesosok orang yang dikenalnya nongol di hadapannya.
Lho, Ramaniya? Kamu baru sarapan?”
Itu adalah Mbak Nunik, sesama penghuni kostan yang semalam nampaknya tidak pulang.
Pagi, Mbak! Baru dari mana?”
Mbak Nunik mengenakan kaus oblong dan celana jins, menenteng tote bag besar menggembung, mungkin seragam kerjanya di pasar swalayan besar di Dago. Dan tanpa ditanya apa-apa, ia menyeroscos dengan logat Jawa Tengah mulai pudarnya:
Aku kemarin makan malam di warteg ini. Pas selesai makan, mau pulang ke kostan, aku cari-cari hapeku nggak ada! Makanya aku balik ke rumah temenku, siapa tahu ketinggalan di tempatnya, soalnya aku sempat mampir. Tapi nggak ada. Berhubung sudah kemaleman, ya, saya nginep dulu di sana, katanya bahaya kalau pulang larut, banyak bencong. Padahal aku udah siap meluncur ke warteg ini lho...”
Teh Laksmi histeris. Langsung ditunjukkannya hape tersebut ke Mbak Nunik, dan Mbak Nunik melompat senang sambil memekik. Memang ia orangnya ceroboh, tetapi kok, beruntung sih? Ramaniya merasa iri. Andai saja yang sedang melompat senang memekik-mekik itu dirinya. Lagipula, mengapa orang seperti Mbak Nunik, yang tenang-tenang saja dengan hapenya, malah mendapatkan kembali barangnya dengan selamat, mudah, dan damai? 
Sesudah menyaksikan penyelesaian masalah satu hari ini dan turut berbahagia, Ramaniya berjalan ke sekolahnya. Deg-degan menebak-nebak apakah ada kemungkinan hapenya tertinggal di sekolah. Dia sangat gelisah. Ia semakin berdebar saat melihat ambang pintu kelasnya. Tangannya bergetar waktu meraba laci bawah mejanya. Jantungnya berdegup waktu merasakan sesuatu bercokol di dalamnya.
Dan Ramaniya menjerit karena itu adalah kecoa! Ya ampun. Apakah ini pertanda buruk? Ramaniya lantas meletakkan tasnya, menyapa beberapa teman sekelasnya, lalu pergi ke lokasi selanjutnya. Ruang latihan band! Siapa tahu ia sedang iseng membuka tasnya di sana lalu gadget mungilnya itu terlontar keluar.
Ramaniya menelusuri ruangan berukuran sedang tersebut. Di kolong drum, kibor, di antara juntaian kabel-kabel adaptor...dan anehnya Ramaniya masih saja belum berjodoh dengan ponselnya.
Sekarang akhirnya Ramaniya betulan ingin menangis sejadi-jadinya. Sungguh. Ia harusnya lebih berhati-hati! Mestinya ia mengawasi sang hape dengan baik. Lunglai, Ramaniya berjalan kembali ke kelas. Direlakannya hape itu setulus hati.
Ia duduk di kelasnya dan mulai menyiapkan buku pelajaran. Siapa tahu ada PR yang terlupa atau apa. Tetapi ia tidak dapat berkonsentrasi dan tatapannya menerawang. Masih sedih juga rupanya.
Diingatnya Agus, yang berbaik hati mengunjungi kostannya demi mengantarkan hape. Dikenangnya Mbak Nunik tersenyum bahagia menemukan hapenya kembali. Diratapinya diri sendiri. Oh, hape, di manakah engkau berada?
Saat Ramaniya tercenung sendiri di kelas, teman bandnya, Rego, muncul tanpa disangka-sangka.
Oi! Ramaniya! Lo tuh nggak bisa jaga barang, apa? Nih, hape lo nyasar di tas gua!”
Mulut Ramaniya otomatis melongo sebesar lapangan voli (soalnya mulut Ramaniya kecil, nggak nyangup kalau mesti seukuran lapangan bola). Astaganaga! Jangan-jangan waktu menunggu saatnya latihan band, ia iseng lagi mengeluarkan hape, memainkannya tanpa sadar, dan mencemplungkannya dengan teknik salah alamat? Jika dipikir-pikir mungkin saja, karena Ramaniya memang suka tanpa sadar mengeluarkan hape tanpa tujuan kalau bosan, sekedar untuk dipegang-pegang, lalu menaruhnya begitu saja tanpa melihat lagi karena yakin pasti dimasukkan ke tas. Barangkali waktu itu Rego baru tiba, meletakkan tas di belakang Ramaniya, dan Ramaniya refleks mengembalikan hape ke tas setelah jenuh menanti Rego dan Tris...lantas bersiap membuat kegaduhan di sana, di studio...
Rego meletakkan Sang Tersangka hape Ramaniya di atas meja. “Gua nggak ngerti kenapa bisa ada di tas gua, tapi yang penting...ini barang balik ke lo.”
Perut Ramaniya dingin karena mencelos. Oh, betapa dia telah merepotkan Emil, Ersya, bahkan Agus—meski yang terakhir di luar dugaannya sama sekali. 

Kamis, 05 Mei 2011

KISAH SATU (bag. 5)


Kurang dari lima puluh langkah berjalan, Agus sudah ingin menyerah.  Mana dia tahu rumah mana yang kost-kostan dan mana yang bukan?!  Agus kan bukan Pak RT!  Cacamarica rumah kost malam-malam itu sama saja dengan cacamarica jerami di tumpukan jarum, omel Agus dalam hati.
Ingin rasanya Agus menjerit dan membawa lari hape tipis itu kabur.  Tapi tadi dia sudah memutuskan untuk mengembalikan benda asing ini kepada pemiliknya.  “Aduuuh! Gemindang dooong?!”
HUSH! Ulah gogorowokan di tengah jalan!Hush! Jangan teriak-teriak di tengah jalan! Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar diiringi suara putaran rantai samar-samar.  Agus terperanjat dan segera berbalik, mendapati seorang bapak berseragam di atas sepedanya sedang melotot memandanginya.  “Astagong, Bapa...  Ulah ngareuwaskeun kitu dong ah! Coplok nih akika punya jantung!Astagong, Bapak... Jangan ngagetin gitu dong ah! Copot nih akika punya jantung! pekik Agus keluar genitnya.
Heh, lamun arek ngamen ulah didieu...Heh, kalau mau ngamen jangan disini... usir pak hansip to the point.
Sanes, Pa...  Ieu abdi bade ngajajapkeun hape nu tinggaleun.  Nanging abdi teu terang kostan anu gaduh hapena.Bukan, Pak... Ini saya mau nganterin hape yang ketinggalan.  Tapi saya nggak tahu kostan yang punya hapenya. Agus tersenyum sopan, berusaha menenangkan sikap permusuhan si pak hansip.
Terdiam sejenak, akhirnya pak hansip teryakinkan.  “Saha ngaranna?”Siapa namanya?
“Agus, Pa.”  Agus mengangguk sembari mengulurkan tangan.
Eee, lain...  Anu boga hape ngaranna saha?”Eee, bukan... Yang punya hape namanya siapa? tukas pak hansip sambil pura-pura tidak melihat tangan yang sedang terulur minta disambut itu.
“Oh, hehehe...  Ngaranna Ramayani, Pa.”  Agus nyengir sambil menarik kembali tangannya, “Sigana mah...Kayaknya sih... tambahnya agak lirih.
Karena pak hansip melemparkan tatapan curiga, Agus cepat-cepat menambahkan, “Tadi abdi ngan papanggih di warteg...  Nembe ‘ge kenal, Pa...Tadi saya cuma ketemu di warteg.  Baru juga kenal, Pak...
Pak hansip garuk-garuk kepala, “Wah, hese atuh neangannana ari kieu mah...Wah, susah dong nyarinya kalau gini sih...
Upami kostan dimana wae nya Pa?Kalau kostan dimana aja ya, Pak? tanya Agus mengabaikan reaksi negatif pak hansip.
Euh, loba atuh didieu mah...Yah, banyak disini sih... jawab pak hansip tidak banyak membantu.
Palih mana wae anu kostan putri teh, Pak?Yang mana saja yang kostan putri, Pak? pinta Agus semanis mungkin, masih berusaha.  Walaupun Agus sama sekali tidak manis, pak hansip diliputi dilema.  Beliau sebenarnya sudah ingin mengayuh sepedanya menjauh dari makhluk ini, tapi tidak enak hati kalau menolak begitu saja.  Ini juga demi kesejahteraan rakyat yang ia jaga setiap hari...
Mendesah, pak hansip berujar, “Nya enggeus, hayu atuh dicobaan weh..Ya sudah, ayo dicoba saja dulu..
Wah, hatur nuhun pisan, Bapa!Wah, makasih banget, Bapak!
Mimiti ti dinya heula.  Nu pager hideung.Dari situ dulu.  Yang pagar hitam. kata pak hansip sambil turun dari sepeda.  Sambil menuntun sepedanya, pak hansip berjalan menuju rumah besar yang ia tunjuk.  Agus mengikuti dengan langkah-langkah kecil.
Nu ieu, Pa?Yang ini, Pak?
Nya, sok atuh dibel.Ya, coba dibel.
Agus melongok-longok mencari tombol, karena tidak terlihat, akhirnya ia mengetuk-ngetukkan gembok pada pagar beberapa kali.
Dua kali mencoba, akhirnya pintu depan terbuka.  Seorang perempuan tambun keluar.  Begitu melihat Agus, matanya yang bulat menjadi semakin bulat.  “Ya?” tanyanya bingung sekaligus was-was.
“Malem, Teh, disini ada yang namanya Ramanyanyi?”
“Hah?”  Sang gadis tambun semakin bingung.
“Euh...  Anaknya masih SMA, rambutnya keriting panjang.”
“Nggak...  Nggak ada...” jawab gadis itu masih sama bingungnya.
“Ooh...  Ya udah kalau gitu.  Makasih ya.” ucap Agus sambil mengangguk gemulai.
“Iya..”  Masih tetap bingung, si tambun itu melayangkan pandangan bertanya pada pak hansip.  Pak hansip cuma bisa tersenyum terpaksa dan mengangguk.  “Mari, Teh...” ucap Agus sambil melenggang.  Pak hansip buru-buru mengikuti.
Mereka mencoba ke kostan berikutnya.  Kali ini bangunannya terkesan tua.  Di teras depan, ada seorang gadis yang sedang berbicara dengan handphone.
“Assalamualaikum.” ujar Agus saat mata gadis itu membelalak padanya.
Gadis itu segera berbisik-bisik lalu mematikan handphonenya.  Dia segera mendekati pagar setinggi dada yang berwarna cokelat tua diantara mereka.  “Ya, mbak?” tanya gadis itu sambil tersenyum-senyum geli.
“Aih, nggak usah manggil ‘mbak’ juga nggak apa-apa lhooo...” ujar Agus manja.  Sebenarnya cukup tersanjung juga dipanggil ‘mbak’.
“Ada apa ya ‘mas’?” tanya gadis itu lagi.  Masih tersenyum.
“Mau nanya nih, disini ada yang namanya Ramamia?” tanya Agus tidak yakin, “Mmm... Anak SMA, rambutnya keriwil.” tambahnya.
Gadis manis itu menggeleng, “Nggak ada tuh, mas.”
“Oooh... gitu ya...  Ya udah deh, makasih ya...  Lanjutin lagi deh telepon-teleponannya.” kata Agus sambil tersenyum lebar.  Si gadis tergelak, “Sama-sama...” jawabnya lembut.
Pak hansip segera berjalan lagi.  Agus kembali tergopoh-gopoh mengikuti.
Mereka mengunjungi tiga kostan lagi di sepanjang jalan itu.
“Nggak.  Nggak ada.” ujar pembuka pintu yang pertama jutek.  Ketara sekali dia tidak menyukai banci.  Bahkan belum juga Agus mengucapkan sederet kalimat penutup, wanita yang sepertinya pembantu disitu sudah bergegas kembali masuk ke dalam rumah.
“Ramaniah?” ujar seorang wanita mungil di kostan berikutnya takut-takut.
“Iya...” jawab Agus masih tidak yakin.
“SMA?” tanya wanita itu sambil sedikit-sedikit menggigiti kuku.  Alisnya mencuat ke atas seperti mengkhawatirkan sesuatu.
“Iya...” jawab Agus dengan senyum lembut, berusaha ramah.
“Keriting?” tanya wanita itu lagi.  Suaranya mengecil seperti tercekik.
“I..iya..” jawab Agus terbawa gugup.
“Panjang?”
Hadeeeuh...  Agus gemas.  “Nggak ada ya, mbak?  Ya udah, makasih ya.” ucap Agus tanpa menunggu gelengan dari wanita mungil yang ketakutan itu.  Pak hansip berusaha untuk tidak tertawa mengejek dibelakang Agus.
“Rimanana?!  Nggak ada!”  Brak.  Pintu berikutnya ditutup hanya empat detik setelah dibuka.  Agus dan pak hansip mendesah.
Ketiganya mengaku tidak menampung gadis SMA berambut keriting yang bernama Rimayani, Raminiah, atau pun Rimanana.  Agus kembali merasakan keinginan untuk menjerit sambil membawa handphone ceking itu kabur.  Dan pak hansip juga kembali merasakan keinginan untuk melompat ke atas sepedanya dan kabur dari jejadian bernama Agus itu secepatnya.  Tapi tidak ada yang kabur.  Keduanya berjalan lesu mengapit sepeda.
Mereka berbelok.
Eta nu pager bodas jeung nu aya tangkal lengkengna, eta teh kostan putri.  Maneh teruskeun sorangan, nya.  Mun teu papanggih wae, geus we cokot hapena.  Meureun rizkina maneh.Itu, yang pager putih sama yang ada pohon lengkengnya, kostan putri.  Kamu terusin sendiri ya.  Kalau nggak ketemu juga, ambil aja hapenya.  Mungkin rejekinya kamu. ujar pak hansip letih.
Agus ingin protes, tapi ditelannya kembali segumpal omelannya.  Sudah baik sekali pak hansip mau mengantarnya.  Maka dia tersenyum dan berkata, “Muhun, tos atuh.  Hatur nuhun nya, Pa.  Selamat bertugas lagi!”Ya udah.  Terima kasih banyak ya, Pak.  Selamat bertugas lagi!
Pak hansip mengangguk, lalu akhirnya menaiki sepedanya dan pergi.  Perjalanan sang waria mencari Ramaniya kini kembali sepi.  Agus semakin tertekan setelah ditinggal pak hansip.  Dalam hati, dia juga mulai ikut-ikutan menyetujui nasihat pak hansip.  Jika dari dua kostan di depan ini tidak ada gadis keriwil itu, handphone itu akan menjadi miliknya.  Titik.  ...’Koma’ sih...
Tek.  Tek.  Tek.  Lagi-lagi Agus tidak menemukan bel.
Tek.  Tek.  Tek.
Dari rumah besar yang kuno dengan deretan jendela, satu-satunya pintu terbuka.  Seorang gadis melongokkan kepalanya yang hampir bulat karena rambutnya mirip helm.
“Malem, Teh...” Agus tersenyum dan membuka mulut untuk meluncurkan berderet-deret kalimat tapi gadis itu membungkam Agus dengan suara kerasnya, “AGUS KAN?!” tanyanya secara ajaib dan penuh kegembiraan.
“Hoh?” tanya Agus otomatis karena shock.  Ada kemungkinan yang sangat besar bahwa gadis manis itu adalah titisan siluman atau mungkin muridnya Almarhum Mama Loren.  Mulut Agus sudah siap untuk membaca doa dan kakinya yang berotot kekar sudah siap untuk berlari dengan tenaga kuda, tapi ia tertahan oleh sebuah penampakan yang membuat segalanya menjadi semakin buruk.  Gadis itu membelah diri menjadi dua.
“Cari Ramaniya, ya?!” tanya yang satu lagi.
Ah, Agus mulai menyadari situasinya.  Dia tersenyum gugup dan mengangguk.  Melihatnya, kedua anak kembar itu tersenyum serupa dan berjalan cepat menyongsong Agus.  Salah satu dari mereka membukakan pagar.  “Masuk dulu, Agus.” ucapnya ramah sekali.
“Iya.” jawab Agus malah jadi gugup sekali.
“Mil, tolong bangunin si Ramaniya dong...” ucap yang membukakan Agus pagar.
“Oke.” ucap satunya lagi, lalu ia melompat-lompat masuk.
Gadis yang mengenalkan dirinya sebagai Ersya itu membawa Agus masuk dan menemaninya duduk di sofa kuno yang bau apek di ruang tamu mereka.  Gadis itu mengajaknya bicara dengan wajah penuh ketertarikan.  Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.  Pembawaannya yang ceria dan santai segera mencairkan ketegangan Agus.
“Agus?” tanya sebuah suara yang serak ditengah-tengah pembicaraan.
Agus menoleh dan mendapati si gadis keriwil yang dicari-carinya, berdiri dengan tampang kumal dan mengantuk.  Mulutnya tanpa sadar tertarik lebar.  “Ramaniya!” ucapnya, kali ini yakin karena sudah hafal.
“Ini, hape kamu ketinggalan!” ucap Agus sambil mengeluarkan handphone itu dengan semangat.
Ketiga gadis yang manis-manis itu terdiam.  Cukup lama hingga membuat Agus sesak nafas.  Untung kemudian salah satu bersuara.  “...Itu bukan hape saya...” ucap Ramaniya akhirnya.