Pages

Senin, 18 April 2011

KISAH SATU (bag. 3)


Wajah Ramaniya kosong dan pasi.  Belum bisa menerima kenyataan, Ramaniya menggantung terbalik tasnya dan mengocok isinya ke atas kasur.  Lima buku cetak dan tiga buku tulis, sekotak tempat pensil serta sebuah dompet kulit warna cokelat muda berlompatan tumpah keluar.  Ditengoknya kembali isi ransel sekolah miliknya yang hanya terdiri dari satu kantung itu.  Kosong.
Mata Ramaniya kini membelalak tegang dan dagunya bergantung tidak sadarkan diri, membiarkan mulutnya terbuka dengan dungu.
Tangannya meraba kantung rok abu-abunya yang kosong juga kantung kemejanya yang dia tahu pasti hanya berisi uang jatah ma...  Ya ampun!  Dia lupa membayar sepiring nasi yang kini ada di dalam perutnya!
Ramaniya terduduk di pinggir kasur.  Lemas sekali dia.  Tangannya terkulai layu.  Matanya pun layu.  Berkecamuk perasaan takut kalau sampai handphone-nya tidak akan kembali, kemarahan orang tuanya, hidupnya tanpa handphone...  Ditambah lagi dia lupa bayar warteg, bodoh sekali...  Gara-gara bencong itu!
Mata Ramaniya melebar seketika.
Hey!  Bencong itu!  Jangan-jangan bencong itu menyambi jadi copet juga!  Kalau dipikir-pikir, tadi warteg kosong sama sekali, tapi kenapa bencong itu mau duduk disebelahnya?  Bencong itu juga yang memulai pembicaraan!  Mungkin tujuannya untuk mengalihkan perhatian..!  Dia juga repot-repot mengulurkan tangan untuk kenalan.  Menurut pakar hipnotis yang Ramaniya tonton di TV milik Emil-Ersya-Bersaudara, pelaku hipnotis cenderung melakukan pergantian topik dan kontak fisik untuk mengalihkan pikiran korban.  Walau pun kemungkinan besar Agus tidak bisa hipnotis, dia pasti juga nonton TV waktu itu!  Aaah.. kenapa sih di dunia ini harus ada bencong?!
Kesal, Ramaniya memelototi isi tasnya yang amburadul.  Diambilnya dompet kotaknya.  Kenapa dompet ini masih ada disini?  Kenapa tidak sekalian diambil kalau memang dari awal ingin mencuri?  Gadis itu membuka dompetnya.  Isinya masih utuh.  Kartu ATMnya pun masih terselip nyaman disana.  Alisnya berkerut.  Hmm...  Tunggu...  Justru wajar kalau dompetnya tidak diambil.  Si bencong itu takut Ramaniya sadar akan aksinya saat akan membayar makanan.  Tentu bencong copet itu tidak tahu kalau uang jatah makan malamnya sudah dipisah dan ada di kantung seragamnya.
Kemungkinan besar, memang Agus-lah pencurinya... tapi Ramaniya tahu dia tidak punya bukti apa-apa.  Dan tidak baik menimpakan tuduhan kepadanya mentang-mentang dia bencong.  Lagipula, kalau memang handphonenya ada pada Agus, memangnya apa yang bisa Ramaniya lakukan?  Konfrontasi?  Panggil polisi?  Hiii...  Lebih baik mereka tidak bertemu lagi seumur hidup.
Dengan lesu, gadis itu mengumpulkan barang-barangnya dari atas kasur dan menaruhnya di atas meja belajar.  Ia mengumpulkan satu set pakaian bersih dan handuk Winnie The Pooh lalu menggamit sekeranjang alat mandi.  Dan ia pun keluar kamar, menuju sebuah kamar mandi milik bersama.
Tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu kamar mandi, pintu plastik itu terbuka.  “Astagfirullahaladzim..” ucap Ramaniya antara tercekat dan kaget.  Si pembuka pintu pun sama kagetnya, hanya saja dia terlalu tercekat untuk mengeluarkan suara, apalagi sebuah kata.
Butuh satu detik untuk menyadari siapa yang sedang Ramaniya pandangi.  Dia Ersya, pinang kebelah duanya Emil.  Rambut a la Dora-The-Explorer-nya Ersya (dan Emil juga sebenarnya..) mengilat basah dan mencuat kesana kemari.  Wangi semerbak hasil adukan shampo dan sabun menyeruak bersama dengan sebaris kalimat yang lantang dari mulut Ersya:
“Ramaniya! Kamu udah makan?”
“Udah, barusan dari Kabita…” jawab Ramaniya sambil merasakan sensasi deja vu.
“Bagus deh, untung kamu nggak nungguin kita...”
“Iya..”
“......”  Ersya mengerutkan alis, “Kenapa, neng? Tumben amat kau loyo...” tanyanya sambil bergeser keluar dari kamar mandi.  Kini keduanya berhadapan dihadapan kamar mandi.
Ramaniya mendesah sebelum menceritakan ulang (dengan lebih singkat) mengenai kejadian di warteg dan juga masalah handphonenya yang diculik.  Ersya manggut-manggut sabar mendengarkan hingga tamat cerita.
“Kalau kata aku, coba kamu inget-inget lagi dulu, hari ini kamu ngapain aja.  Siapa tahu handphone kamu ketinggalan di kelas.  Ya semoga aja nggak dicolong sama Si Agus itu...  Kalau iya, wah... udah deh.  Tamat.  Nggak akan balik tuh hape.”
Ramaniya mengangguk kecil.
“Sabar ya, neng...”  Ditepuk-tepuknya pundak Ramaniya sebentar, lalu Ersya melenggang ke kamarnya dan Ramaniya pun memulai ritual hariannya di kamar mandi sambil mencoba mengingat-ingat kegiatannya sepanjang hari itu:
Tadi pagi Ramaniya bangun jam lima teng!  Seperti biasa mandi dan bikin mi instan untuk sarapan.  Sesudah sarapan, dia sikat gigi.  Sesudah itu siap-siap ke sekolah.  Dia ingat pagi tadi dia mematikan handphone dan memasukkannya ke dalam tas.
Di sekolah jam istirahat pertama dia pakai untuk belajar sejarah.  Handphonenya tidak dilirik sama sekali.  Nah, di jam istirahat kedua, dia memang menyalakan handphone.  Hanya sekedar mengecek saja.  Dan seharusnya, tidak lama kemudian sang telepon genggam dibunuh dan dicemplungkan kembali ke dalam tas.  Ramaniya sangsi hapenya tertinggal di kelas seperti kasus yang sering terjadi pada teman-temannya; tertinggal di rak meja.  Dia tidak seteledor itu, ...rasanya sih...
Pulang sekolah, Ramaniya langsung pergi ke ruang ekskul.  Ramaniya adalah ketua umum ekskul band dan juga pemimpin grup band aliran brit-rock andalan sekolahnya.  Hari itu adalah hari langganan grupnya untuk memakai studio.  Karena natur Ramaniya dan kawan-kawannya agak oportunistis, mereka akan selalu berusaha menggunakan studio melebihi batas waktu yang ditentukan.  Salah satunya dengan memulai latihan TEPAT setelah bel keluar kelas, mengabaikan waktu 30 menit yang diberikan untuk istirahat.
Di studio, sudah ada Nung, si penabuh drum.  Nama aslinya Danu.  Rambutnya cepak dan kacamatanya jumbo.  Kata orang mukanya mirip Marcell Siahaan.  Ya mungkin sih, kalau lihatnya dari belakang sambil jongkok...
Setelah ngobrol-ngobrol sambil iseng membunyi-bunyikan segala alat musik, Tris si pianis imut tontonan para pria datang bersama Rego si bassis yang katanya bisa jadi kembaran Ramaniya.  Sebenarnya semua juga sadar bahwa tidak ada yang mirip diantara Ramaniya dan Rego selain rambut keriwil dan huruf depan nama mereka, tapi orang selalu ingin punya topik bersensasi, jadi mereka tetap dinyatakan kembaran-kepisah-waktu-lahir.
Anyway, Ramaniya kembali memutar kejadian hari itu.
Mereka berempat latihan sampai Pak Gino, satpam sekolah, datang dan “mengusir” mereka sekitar jam empat sore.
Belum makan siang dan capek setelah latihan yang diforsir, mereka biasanya selalu cari jajanan.  Dan biasanya lagi, mereka pasti lupa waktu sampai hari menjelang malam, termasuk hari ini.  Rasanya saat itu Ramaniya sama sekali tidak mengeluarkan handphone.
Setelah Tris dijemput pacarnya dan Danu harus menjemput pacarnya, Ramaniya dan Rego pulang bareng-bareng.  Mereka berdua sama-sama bawa sepeda ke sekolah, jadi keduanya bersepeda ria menuju rumah.  Setengah jalan, keduanya berpisah di perempatan.  Rego lurus sedangkan Ramaniya belok kanan, ke arah Dago.
Sampai di kostan, Ramaniya sudah lapar lagi.  (Ya pasti lah, tadi cuma nyamil bandros satu potong.)  Tanpa basa-basi Ramaniya mencari teman makan, dan mendapati tidak ada orang di sini selain Teh Lulu.  Malas mencari kunci kamar, Ramaniya hanya mengganti sepatunya dengan sandal jepit di luar kamar.  Lalu dengan penampilan seperti itu, dia pergi dan akhir kata, ia bertemu Agus, Si Tersangka yang Warna-warni.
Ramaniya keluar kamar mandi dengan muram.  Kini dia benar-benar menyerah.  Ya sudahlah, kalau memang harus hilang, ya hilang.
“Ram! Ram!” seru sepasang suara identik bersamaan saat Ramaniya baru membuka pintu kamarnya.
Ramaniya menoleh tidak antusias, “Hah..?”
“Sini!  Sini!” ujar sepasang pinang kebelah itu sambil melongok dari pintu kamar mereka.
Menyeret sandal sambil memboyong seragam, handuk serta seperangkat alat mandi miliknya, Ramaniya mendekati Emil dan Ersya.  “Wassup?” tanyanya malas.
“Nih, coba telepon nomer kamu.  Siapa tahu ketinggalan dan ditemuin orang baik.” ujar Emil yang belum mandi sambil menyodorkan handphone miliknya.

0 komentar: