Pages

Sabtu, 16 April 2011

KISAH SATU (bag. 2)


 Seketika itu juga, Ramaniya kehilangan nafsu makannya.  Sebab warteg itu dikunjungi oleh pemusik jalanan ciamik yang berstatus bencong.  Hidungnya operasian, sampai mancung berlebihan.  Kelopak matanya dipulas eye shadow biru terang dan ia memakai bulu mata palsu.  Alisnya dibentuk dengan pensil, sehingga nampak sangat artifisial.  Bibirnya diberi gincu merah muda menyala.  Bedaknya? Jangan ditanya.  Tentu saja sudah mirip dempul putih yang kontras dengan leher coklatnya. 
Pakaiannya sangat aduhai.  Di luarnya ia memakai atasan kebaya berenda-renda putih kusam, untuk menambah aksen pada tank top hijau toskanya.  Di bawahnya, sang bencong mengenakan rok mini denim yang memperlihatkan rambut-rambut tidak halus pada betisnya.  Sepatunya model wedges plastik warna kuning mencrang. 
Ia membawa tas centil yang Ramaniya yakini di dalamnya terdapat seperangkat alat dandan—kalau bukan receh dan alat musik dari tutup botol dipaku pada kayu.  Tapi pada dasarnya Ramaniya sangat takut terhadap bencong, sehingga ia tidak berani memperhatikannya lebih jauh. 
Maka menunduklah ia, fokus makan dan pura-pura tidak tahu. 
Setelah beberapa saat, ia menyadari kalau waria tersebut bukannya ngamen, melainkan memilih-milih makanan di depan rak kaca, dan Ramaniya dapat mendengar bahwa ia minta sayur sawi, tempe bacem, serta waluh. 
Lantas Ramaniya merelaksasikan lehernya yang barusan tegang dengan menengok kiri-kanan dua kali.  Waktu menoleh ke kiri untuk kedua kali, bulu kuduknya berdiri semua karena menyadari bahwa bangku kosong di sampingnya tahu-tahu saja sudah diduduki oleh sang bencong. 
Mereka benar-benar saling menatap.  Ramaniya ketakutan setengah mati hingga ia ingin muntah.  Piringnya masih tiga perempat penuh dan ia sungguh berharap dapat kabur secepat kilat.  Jadi ia alihkan matanya ke makanan lagi.  Dengan tangan gemetaran ia menyuapi diri. 
Samar tercium aroma parfum wanita dari sebelah kirinya, diiringi denting beradunya sendok-garpu dan piring.  Rasanya seluruh dunia Ramaniya adalah film thriller detik itu. 
Bagi Ramaniya, seorang bencong itu menakutkan sekaligus menambah rasa iba.  Ia sering ketakutan sendiri di jalan kalau pulang malam, sebab kadang ada waria-waria cantik yang lewat dan menggodanya.  Atau kalau mereka mengamen misalnya di jalan raya, mereka sering agak memaksa dan berbicara macam-macam untuk menakut-nakuti korbannya. 
Pokoknya, persepsi Ramaniya tentang bencong tidak pernah jauh dari negatif dan buruk dan sinonim lainnya.
“Sayur sawinya enak ya,” sebuah suara berwarna sangat lelaki tapi agak ditekan sehingga cempreng dan bercengkok manja membuat santapan Ramaniya di dalam sendok ambrol lagi ke atas piring. 
Perlahan Ramaniya menengok ke kiri.  Bencong tadi memandangi matanya lurus dan tersenyum mengerikan (di mata Ramaniya).  “Sering makan di sini, Teteh?”
Tenggorokan Ramaniya tersumbat ketakutan. 
“Eh, kok diem aja sih, Teh?  Takut ya, sama saya?” ledek si bencong.
Ramaniya menelan ludah dan demi bertahan hidup, ia berbicara, “Iya, eh, maksudnya, sering makan di sini...makanannya enak-enak, murah...”
“Murah, enak! Saya setuju, Teh. Ngomong-ngomong, kenalin,” tiba-tiba lawan bicara Ramaniya mengulurkan tangan.  Ramaniya lagi-lagi terpaksa memberi tangannya daripada mati disewotin bencong itu, yang sekarang menyebutkan namanya: “Agus!”
“R...Ra...Ramaniya,” cicit sang gadis. 
“Wah, namanya bagus banget bo! Bahasa apa? India? Ck, ck.  Tinggal di mana? Deket sini?”
Ramaniya mulai sedikit tenang walaupun masih merinding.  Tapi rupanya Agus Sang Bencong bukan teroris atau orang aneh.  Ia hanya seorang pria biasa berpenampilan feminin. 
“I...iya, kost. Kalau...Agus?”
Sebetulnya Ramaniya barusan bingung mau memanggil 'mbak' atau 'mas' atau 'teteh' atau 'aa' atau 'akang'.  Ah, dia sangat bingung hingga akhirnya hanya sanggup menyebut nama. 
“Agus mah punya tempat sendiri.  Tadi juga baru bangun tidur, sekarang mau bertugas di Dago!” sahut Agus.
“Oh,” cetus Ramaniya kehabisan kata-kata. “Eh...sendirian aja?”
“Nggak dong! Nanti ada temen Agus kok, tapi dia dari siang udah di sana.”
“Oh.”
Ramaniya bodoh! Kenapa ia hanya bisa bilang 'oh'?
Makanan di piring Ramaniya habis, sedangkan Agus belum selesai.  Sesopan mungkin, Ramaniya berkata pada teman barunya, “Eee...Agus, saya duluan ya? Selamat meneruskan makan. Hati-hati di jalan.”
Agus melongo sebentar entah kenapa.  Sepertinya ia agak kaget mendengar kata-kata cantik dari Ramaniya.  Lantas ia berkomentar genit, “Namanya bagus, orangnya baik.  Ck, ck.  Mantap bo! Makasih ya, Neng Ramanyanya! Hati-hati juga pulangnya.  Udah malem, nih!”
Ramaniya memberikan senyumnya yang terbaik sekaligus terlihat sangat salah tingkah, mengembalikan piring ke Teteh Penjaga Warteg yang masih dia lupa pula namanya, dan lari terbirit-birit menembus gelapnya malam yang dimeriahkan rintik hujan.  Jantungnya masih berdegup-degup. 
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia berkenalan dengan seorang waria bernama Agus! Teteh Agus atau Bapak Agus, entahlah. 
Tiba di kostan ia disambut oleh Emil.  Ersya-nya entah di mana. 
“Ramaniya! Kamu udah makan?”
“Udah, barusan dari Kabita…”
Butuh teman berbagi, Ramaniya langsung mengalirkan ceritanya tentang Agus kepada Emil.  Reaksi Emil ternyata di luar dugaan.  Ia sangat tenang mengutarakan:
"Lumayan, Ram, dapet temen baru."
"Idih, aku paling stres kalau ketemu waria. Serem!"
"Memang kenapa? Trauma?" 
Emil tersenyum dan menepuk pundak Ramaniya supaya anak itu agak tenang.  Lantas mereka masuk kamar masing-masing.  Ramaniya meletakkan tas ranselnya di atas ranjang dan ia mencari-cari telepon genggamnya.  Tapi aneh! Ia mengubek-ubek tas tersebut tanpa berhasil menemukan yang ia cari.  

2 komentar:

Inez mengatakan...

Hahahaha! Kaget waktu hapenya ga ada!! OH NO! Gimana dong???

Ningrum mengatakan...

Gimana, yaa? :)