Pages

Rabu, 13 April 2011

KISAH SATU (bag. 1)


Ramaniya menyeret-nyeret pelan kedua kakinya yang masing-masing menjepit sandal.  Kepalanya ditundukkan demi memerhatikan jalanan abu-abu yang dirintiki hujan.  Jalanan polos didepannya menjadi polkadot.  Tik.  Tik.  Tik.  Makin lama, bontol-bontolnya bertambah banyak.  Akan makan waktu berapa lama sampai seluruh jalan berubah menjadi hitam?
Adzan Sholat Isya dikumandangkan oleh dua buah mesjid.  Bertumpukan dan samar.  Sudah tidak terdengar lagi setiap suku kata yang dikumandangkan, tapi cukup membuat jalanan malam yang sepi terasa lebih aman bagi Ramaniya.
Hidup sendiri di kostan yang tidak laku membuat Ramaniya sering melewati makan malamnya seorang diri.  Isi kostannya cuma Mbak Nunik – seorang SPG, Rara – mahasiswi jurusan sastra inggris, dan sepasang kembar – Emil dan Ersya, keduanya mahasiswi jurusan desain komunikasi visual.  Oh, ditambah Teh Lulu, pembantu yang rangkap jadi penunggu rumah.  Masih tersisa 3 kamar kosong di kostannya.
Ramaniya sering makan bersama Emil dan Ersya.  Tapi malam ini, keduanya tidak ada di tempat.  Bahkan Rara yang biasanya selalu ada di kamar pun hari ini tidak terlihat.  Apa boleh buat, Ramaniya harus makan sendiri di Warteg Kabita, warteg paling lengkap dan paling enak dibanding warteg-warteg lainnya di sekitar situ.
Sandalnya akhirnya menginjak lantai warteg yang sempit.  “Makan sama apa, teh?” tanya mbak yang jaga warteg ramah.  Namanya selalu terlupakan oleh Ramaniya, padahal sudah tiga kali dia bertanya.
Matanya menjelajahi rak kaca berisi berjenis-jenis makanan.  “Perkedel sama sayur sawi aja deh.” tandasnya.
“Makan sini, Teh?”
Ramaniya mengangguk.
Warteg sedang sepi.  Mungkin karena sudah lewat jam makan malam.  Menunggu piringnya, gadis berambut ikal ini duduk di bangku panjang.  Memerhatikan mbak penjaga warung menyendoki sayur sawi.
“Mangga, Teh.”  Piring disodorkan.
“Nuhun.”
Sesendok penuh segera disuap oleh mulut laparnya.  Sendoknya belum juga keluar dari mulut ketika sesosok manusia masuk ke dalam warteg.

3 komentar:

Windiarszeni Saputri mengatakan...

Sedikit kritikan. Hehe. Yang dikumandangkan itu bukan Sholatnya, tetapi Adzan Sholat isya nya. Hehe :D

Inez mengatakan...

Makasih banyak Windi! (Boleh dipanggil gitu kan??) Sy emang ga gitu ngerti, maaf salah ya.. Udah ditambahin! :D Makasih banyak! Makasih!

Windiarszeni Saputri mengatakan...

Hehehe, ok ok Inez. Ayo lanjut ceritanya Nez! :D