Pages

Selasa, 19 April 2011

KISAH SATU (bag. 4)

Dengan ketegangan menusuk, Emil dan Ersya mengerumuni Ramaniya yang baru memencet nomor handphone-nya.  Ia menanti nada sambung terdengar, tapi justru berkumandang lagu beraroma jazz dan celoteh wanita operator, menyatakan bahwa nomor yang ia tuju sedang tidak aktif. 
Perut Ramaniya mencelos.  Bodoh! Ia tidak menyalakan telepon genggamnya.  Atau lebih tepatnya: belum
“Kalau kayak gini sih nggak bakal ketemu sampai kapan pun!” keluhnya sedih.
“Ram, kamu yakin tuh hape betulan hilang? Coba cek lagi...,” pinta Emil.
“Hilang sama sekali, Mil.  Tasnya juga udah aku jungkirbalikkin, isinya udah ambrol semua, nggak ada!” sekarang mata Ramaniya berkaca-kaca.  Ersya buru-buru memeluk bahu anak kelas dua SMA itu. “Nggak apa-apa, Ram, kalau mau nangis.  Nangis aja.”
Tapi Ramaniya tak menangis jua.  Ia malah menggigiti kukunya, teringat betapa senangnya ia siang tadi karena bandnya, sedangkan malam begitu berlawanan situasinya.
Ini kali pertamanya kehilangan barang.  Walau penampilan (kadang) amburadul, lancay dan seenak perut, ia teliti menjaga semua propertinya.  Apalagi ia jauh dari orang tua, tinggal sendiri di kos, sehingga tanggung jawabnya memang sepenuhnya milik pribadi.  Tak pernah ia seteledor ini! 
Dalam kepalanya terbayang-bayang wajah Agus yang centil, yang mengedip-ngedip genit, tersenyum.  Duh, apa ia benar-benar seorang pencopet? Apakah sekarang dalam tas kecilnya itu tersimpan handphone Ramaniya yang tidak aktif dan seorang diri?
Ramaniya menghisap ingusnya yang nyaris mengalir dan ia menyingkirkan genangan air matanya.  “Emil, Ersya, aku mau tidur dulu ya? Capek banget.”
“Lho? Hapemu...?” mata Emil terbelalak. 
Ersya memotong, “Udah, biarin aja Ramaniya istirahat.  Semoga besok ada jalan keluar.  Atau insya Allah ada yang mengantarnya ke sini, atau besok di sekolah dia nemuin hapenya...”
Sebelum Ersya selesai mengucapkan berbagai kemungkinan terbaik dalam kasus lenyapnya hape Ramaniya, Emil bersungut-sungut, “Ssst, ah! Ramaniya bisa tambah sedih.”
Ramaniya tersenyum sebisanya, menggelengkan kepala dan ia masuk ke kamarnya, menyeret-nyeret sandal jepit.  Diletakannya kepala di atas bantal dan anehnya, bukan seperti orang gelisah lain, ia tertidur pulas. 
Mungkin stok energi memang tak bisa bohong. 
Di malam yang muram berhujan itu, Agus si bencong kelimpungan di depan warteg.  Ia melihat lagi jam tangannya, yang anehnya tak pernah ia kenakan di pergelangan tangan melainkan hanya disimpan di tas.  Sekarang pukul sepuluh tiga puluh dan dia lupa membawa payung, hujannya deras, sedangkan ia seharusnya sudah di jalan raya sekarang.  Kalau hujan-hujanan, niscaya dandanannya akan luntur. 
Ya sudah.  Ia berharap lima menit lagi hujannya habis.  Ia memandang menerawang melihat aspal basah, rintik air, dan kadang motor atau mobil melintas diiringi suara cipratan campur deru mesin. 
Tiba-tiba dari belakang Agus muncul mbak penjaga warteg yang sumringah karena hari ini pun masakannya laku.  Ia memanggil Agus, “Aa! Ini handphone Aa bukan?”
Agus menengok dan melihat mbak penjaga warteg tersebut tampak agak panik, menggenggam sebuah telepon seluler yang sudah tak terlalu baru tapi masih terawat.  Bukan Blackberry, bukan iPhone.  Warnanya merah marun, ukurannya kira-kira sepanjang telapak tangan anak-anak dan lebarnya empat sentimeter. Tebalnya hanya satu senti. Wow! Sebuah hape bagus! Agus melotot kesenangan.  Andai ia dapat berkata bahwa itu miliknya...
“Bukan, saya mah nggak punya hape, Teh,” jawab Agus jujur. 
“Aduh, punya siapa atuh ya? Ada di kolong meja, nih,” si teteh membolak-balik hape, diperhatikannya, siapa tahu ketemu stiker nama.  “Gimana ya? Apa disimpan dulu, siapa tahu besok orangnya balik?”
“Kalau nggak balik juga gimana, Teh?” Agus berkata serius. 
Dahi teteh warteg mengerut ke tengah, berpikir.  Ia agak takut dikira nyolong handphone, tapi juga tidak tahu bagaimana caranya supaya orang yang punya cepat-cepat mengambil benda ini. 
Agus sama dilemanya.  Lumayan sih, kalau bisa punya hape, biar kayak orang-orang di televisi.  Biar makhluk jalanan, boleh doong, bergaya sedikit? Lalu Agus mendengus.  Tidak.  Itu punya orang lain, harus dikembalikan.  Mencuri itu dosa, bo!
Aduh, tapi bagaimana caranya?
Sekonyong-konyong, Agus dan si teteh bertemu tatap dan kedua orang itu diberkati oleh Yang Kuasa dengan sebuah ide: “Kita nyalain dulu aja hapenya! Siapa tahu yang punya telepon!”
Mereka sama-sama baru teringat satu episode sinetron di mana seorang anak remaja trendi menelepon hapenya yang hilang dan rupanya tuh hape ada di tangan preman.  Lumayan juga tuh sinetron, membantu di saat-saat genting!
Teteh meletakkan hape itu di tangan Agus.  Agus mengembalikannya.  Teteh menaruhnya lagi ke telapak Agus. 
“Teteh yang nyalain atuh!”
“Jangan saya! Takut!”
“Saya juga takut!”
Mereka memutuskan untuk menyalakannya sama-sama.  Sempat bingung menekan tombol apa, tapi akhirnya mereka menyimpulkan bahwa tuts bergambar lingkaran setengah terpotong garis warna merah itulah kata kuncinya.  Mereka menekannya.  Tut.
Cahaya benderang muncul dari layar, merembet ke seluruh tuts telepon genggam itu.  Teteh dan Agus yang sama-sama belum pernah punya hape sendiri, terkesima dan muka mereka sangatlah polos aduhai gembiranya.
“Nyala, A! Yee! Ayo, A...kita tunggu.”
Mereka terdiam selama bermenit-menit.  Lantas cahaya handphone tersebut meredup.  Mereka panik dan memencet tombol yang sama lagi.  Oh, rupanya hanya mode penghematan daya biasa. 
“Kalau sampai pagi nggak ada yang telepon mah percuma, Teh.”
“Duh, punya siapa sih nih hape?  Saya mah takut, A,” teteh penjaga warteg menghela nafas. 
Saat itu juga Agus menyadari bahwa hujan telah usai.  Ia langsung bilang pada si teteh bahwa ia harus pergi.  Si teteh pun panik, berkeringat dingin. 
“Terus gimana hapenya, A?”
“Udah, simpen dulu, Teh!”
“Nggak apa-apa nih?” teteh tidak yakin. 
“Iya.  Daripada saya yang bawa.  Lebih jauh lagi dia ngilang.  Nanti yang punya lebih lama lagi pusingnya.”
Teteh mengangguk ragu.  Waktu ia kembali ke dalam dan mau menyimpan hape tersebut hati-hati, Agus berseru dari luar, “Teh, di kolong meja yang mana sih, jatuhnya?”
“Yang ini!” sang lawan bicara menunjuk meja yang tadi dipakai makan oleh Agus pula.  Memori Agus terlempar balik.  Ia ingat! Pasti si anak cewek kriwil nama India itu kan? Karena setelah dia, memang tak ada siapa-siapa lagi yang duduk di sekitar situ (pada takut sama Agus). 
“Teh! Saya tahu siapa yang punya hapenya! Si Ramairnya!”
Teteh warteg melompat dua puluh senti ke atas dan ia langsung melemparkan hape misterius ke tangan Agus, tak peduli nama yang disalahsebutkan oleh Agus barusan.  “Sana balikin kalau memang tahu!”
“Saya nggak tahu dia tinggal di mana, Teh...”
Agus yang ingatannya kurang detail menggaruk-garuk rambutnya.  Ia memicingkan matanya, berusaha menggali lebih dalam informasi yang dia tangkap dari perbincangan bersama anak berseragam SMA tadi.
Oh! Tempat kost! Tapi kostan yang mana? Di sini banyak tempat kos.
Teteh penjaga warteg menutup wartegnya dengan papan kayu dan mematikan lampu.  Agus terpekur di depannya.  Sekarang ia mesti bertanggung jawab terhadap benda canggih ini. 
“Aduh, malam ini nggak dinas, deh,” ia berkata pada dirinya sendiri dan memulai langkahnya mencari kost daerah situ yang mungkin menampung seorang makhluk remaja bernama Ramanariya.  Ah, atau siapa pun nama yang betul. 
Tak apa-apalah, pikir Agus.  Siapa tahu pahalanya besar di akhirat kalau saya berbuat baik... siapa tahu hidup saya juga berubah, jadi lebih baik. Nggak luntang-lantung kayak gini.

Senin, 18 April 2011

KISAH SATU (bag. 3)


Wajah Ramaniya kosong dan pasi.  Belum bisa menerima kenyataan, Ramaniya menggantung terbalik tasnya dan mengocok isinya ke atas kasur.  Lima buku cetak dan tiga buku tulis, sekotak tempat pensil serta sebuah dompet kulit warna cokelat muda berlompatan tumpah keluar.  Ditengoknya kembali isi ransel sekolah miliknya yang hanya terdiri dari satu kantung itu.  Kosong.
Mata Ramaniya kini membelalak tegang dan dagunya bergantung tidak sadarkan diri, membiarkan mulutnya terbuka dengan dungu.
Tangannya meraba kantung rok abu-abunya yang kosong juga kantung kemejanya yang dia tahu pasti hanya berisi uang jatah ma...  Ya ampun!  Dia lupa membayar sepiring nasi yang kini ada di dalam perutnya!
Ramaniya terduduk di pinggir kasur.  Lemas sekali dia.  Tangannya terkulai layu.  Matanya pun layu.  Berkecamuk perasaan takut kalau sampai handphone-nya tidak akan kembali, kemarahan orang tuanya, hidupnya tanpa handphone...  Ditambah lagi dia lupa bayar warteg, bodoh sekali...  Gara-gara bencong itu!
Mata Ramaniya melebar seketika.
Hey!  Bencong itu!  Jangan-jangan bencong itu menyambi jadi copet juga!  Kalau dipikir-pikir, tadi warteg kosong sama sekali, tapi kenapa bencong itu mau duduk disebelahnya?  Bencong itu juga yang memulai pembicaraan!  Mungkin tujuannya untuk mengalihkan perhatian..!  Dia juga repot-repot mengulurkan tangan untuk kenalan.  Menurut pakar hipnotis yang Ramaniya tonton di TV milik Emil-Ersya-Bersaudara, pelaku hipnotis cenderung melakukan pergantian topik dan kontak fisik untuk mengalihkan pikiran korban.  Walau pun kemungkinan besar Agus tidak bisa hipnotis, dia pasti juga nonton TV waktu itu!  Aaah.. kenapa sih di dunia ini harus ada bencong?!
Kesal, Ramaniya memelototi isi tasnya yang amburadul.  Diambilnya dompet kotaknya.  Kenapa dompet ini masih ada disini?  Kenapa tidak sekalian diambil kalau memang dari awal ingin mencuri?  Gadis itu membuka dompetnya.  Isinya masih utuh.  Kartu ATMnya pun masih terselip nyaman disana.  Alisnya berkerut.  Hmm...  Tunggu...  Justru wajar kalau dompetnya tidak diambil.  Si bencong itu takut Ramaniya sadar akan aksinya saat akan membayar makanan.  Tentu bencong copet itu tidak tahu kalau uang jatah makan malamnya sudah dipisah dan ada di kantung seragamnya.
Kemungkinan besar, memang Agus-lah pencurinya... tapi Ramaniya tahu dia tidak punya bukti apa-apa.  Dan tidak baik menimpakan tuduhan kepadanya mentang-mentang dia bencong.  Lagipula, kalau memang handphonenya ada pada Agus, memangnya apa yang bisa Ramaniya lakukan?  Konfrontasi?  Panggil polisi?  Hiii...  Lebih baik mereka tidak bertemu lagi seumur hidup.
Dengan lesu, gadis itu mengumpulkan barang-barangnya dari atas kasur dan menaruhnya di atas meja belajar.  Ia mengumpulkan satu set pakaian bersih dan handuk Winnie The Pooh lalu menggamit sekeranjang alat mandi.  Dan ia pun keluar kamar, menuju sebuah kamar mandi milik bersama.
Tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu kamar mandi, pintu plastik itu terbuka.  “Astagfirullahaladzim..” ucap Ramaniya antara tercekat dan kaget.  Si pembuka pintu pun sama kagetnya, hanya saja dia terlalu tercekat untuk mengeluarkan suara, apalagi sebuah kata.
Butuh satu detik untuk menyadari siapa yang sedang Ramaniya pandangi.  Dia Ersya, pinang kebelah duanya Emil.  Rambut a la Dora-The-Explorer-nya Ersya (dan Emil juga sebenarnya..) mengilat basah dan mencuat kesana kemari.  Wangi semerbak hasil adukan shampo dan sabun menyeruak bersama dengan sebaris kalimat yang lantang dari mulut Ersya:
“Ramaniya! Kamu udah makan?”
“Udah, barusan dari Kabita…” jawab Ramaniya sambil merasakan sensasi deja vu.
“Bagus deh, untung kamu nggak nungguin kita...”
“Iya..”
“......”  Ersya mengerutkan alis, “Kenapa, neng? Tumben amat kau loyo...” tanyanya sambil bergeser keluar dari kamar mandi.  Kini keduanya berhadapan dihadapan kamar mandi.
Ramaniya mendesah sebelum menceritakan ulang (dengan lebih singkat) mengenai kejadian di warteg dan juga masalah handphonenya yang diculik.  Ersya manggut-manggut sabar mendengarkan hingga tamat cerita.
“Kalau kata aku, coba kamu inget-inget lagi dulu, hari ini kamu ngapain aja.  Siapa tahu handphone kamu ketinggalan di kelas.  Ya semoga aja nggak dicolong sama Si Agus itu...  Kalau iya, wah... udah deh.  Tamat.  Nggak akan balik tuh hape.”
Ramaniya mengangguk kecil.
“Sabar ya, neng...”  Ditepuk-tepuknya pundak Ramaniya sebentar, lalu Ersya melenggang ke kamarnya dan Ramaniya pun memulai ritual hariannya di kamar mandi sambil mencoba mengingat-ingat kegiatannya sepanjang hari itu:
Tadi pagi Ramaniya bangun jam lima teng!  Seperti biasa mandi dan bikin mi instan untuk sarapan.  Sesudah sarapan, dia sikat gigi.  Sesudah itu siap-siap ke sekolah.  Dia ingat pagi tadi dia mematikan handphone dan memasukkannya ke dalam tas.
Di sekolah jam istirahat pertama dia pakai untuk belajar sejarah.  Handphonenya tidak dilirik sama sekali.  Nah, di jam istirahat kedua, dia memang menyalakan handphone.  Hanya sekedar mengecek saja.  Dan seharusnya, tidak lama kemudian sang telepon genggam dibunuh dan dicemplungkan kembali ke dalam tas.  Ramaniya sangsi hapenya tertinggal di kelas seperti kasus yang sering terjadi pada teman-temannya; tertinggal di rak meja.  Dia tidak seteledor itu, ...rasanya sih...
Pulang sekolah, Ramaniya langsung pergi ke ruang ekskul.  Ramaniya adalah ketua umum ekskul band dan juga pemimpin grup band aliran brit-rock andalan sekolahnya.  Hari itu adalah hari langganan grupnya untuk memakai studio.  Karena natur Ramaniya dan kawan-kawannya agak oportunistis, mereka akan selalu berusaha menggunakan studio melebihi batas waktu yang ditentukan.  Salah satunya dengan memulai latihan TEPAT setelah bel keluar kelas, mengabaikan waktu 30 menit yang diberikan untuk istirahat.
Di studio, sudah ada Nung, si penabuh drum.  Nama aslinya Danu.  Rambutnya cepak dan kacamatanya jumbo.  Kata orang mukanya mirip Marcell Siahaan.  Ya mungkin sih, kalau lihatnya dari belakang sambil jongkok...
Setelah ngobrol-ngobrol sambil iseng membunyi-bunyikan segala alat musik, Tris si pianis imut tontonan para pria datang bersama Rego si bassis yang katanya bisa jadi kembaran Ramaniya.  Sebenarnya semua juga sadar bahwa tidak ada yang mirip diantara Ramaniya dan Rego selain rambut keriwil dan huruf depan nama mereka, tapi orang selalu ingin punya topik bersensasi, jadi mereka tetap dinyatakan kembaran-kepisah-waktu-lahir.
Anyway, Ramaniya kembali memutar kejadian hari itu.
Mereka berempat latihan sampai Pak Gino, satpam sekolah, datang dan “mengusir” mereka sekitar jam empat sore.
Belum makan siang dan capek setelah latihan yang diforsir, mereka biasanya selalu cari jajanan.  Dan biasanya lagi, mereka pasti lupa waktu sampai hari menjelang malam, termasuk hari ini.  Rasanya saat itu Ramaniya sama sekali tidak mengeluarkan handphone.
Setelah Tris dijemput pacarnya dan Danu harus menjemput pacarnya, Ramaniya dan Rego pulang bareng-bareng.  Mereka berdua sama-sama bawa sepeda ke sekolah, jadi keduanya bersepeda ria menuju rumah.  Setengah jalan, keduanya berpisah di perempatan.  Rego lurus sedangkan Ramaniya belok kanan, ke arah Dago.
Sampai di kostan, Ramaniya sudah lapar lagi.  (Ya pasti lah, tadi cuma nyamil bandros satu potong.)  Tanpa basa-basi Ramaniya mencari teman makan, dan mendapati tidak ada orang di sini selain Teh Lulu.  Malas mencari kunci kamar, Ramaniya hanya mengganti sepatunya dengan sandal jepit di luar kamar.  Lalu dengan penampilan seperti itu, dia pergi dan akhir kata, ia bertemu Agus, Si Tersangka yang Warna-warni.
Ramaniya keluar kamar mandi dengan muram.  Kini dia benar-benar menyerah.  Ya sudahlah, kalau memang harus hilang, ya hilang.
“Ram! Ram!” seru sepasang suara identik bersamaan saat Ramaniya baru membuka pintu kamarnya.
Ramaniya menoleh tidak antusias, “Hah..?”
“Sini!  Sini!” ujar sepasang pinang kebelah itu sambil melongok dari pintu kamar mereka.
Menyeret sandal sambil memboyong seragam, handuk serta seperangkat alat mandi miliknya, Ramaniya mendekati Emil dan Ersya.  “Wassup?” tanyanya malas.
“Nih, coba telepon nomer kamu.  Siapa tahu ketinggalan dan ditemuin orang baik.” ujar Emil yang belum mandi sambil menyodorkan handphone miliknya.

Sabtu, 16 April 2011

KISAH SATU (bag. 2)


 Seketika itu juga, Ramaniya kehilangan nafsu makannya.  Sebab warteg itu dikunjungi oleh pemusik jalanan ciamik yang berstatus bencong.  Hidungnya operasian, sampai mancung berlebihan.  Kelopak matanya dipulas eye shadow biru terang dan ia memakai bulu mata palsu.  Alisnya dibentuk dengan pensil, sehingga nampak sangat artifisial.  Bibirnya diberi gincu merah muda menyala.  Bedaknya? Jangan ditanya.  Tentu saja sudah mirip dempul putih yang kontras dengan leher coklatnya. 
Pakaiannya sangat aduhai.  Di luarnya ia memakai atasan kebaya berenda-renda putih kusam, untuk menambah aksen pada tank top hijau toskanya.  Di bawahnya, sang bencong mengenakan rok mini denim yang memperlihatkan rambut-rambut tidak halus pada betisnya.  Sepatunya model wedges plastik warna kuning mencrang. 
Ia membawa tas centil yang Ramaniya yakini di dalamnya terdapat seperangkat alat dandan—kalau bukan receh dan alat musik dari tutup botol dipaku pada kayu.  Tapi pada dasarnya Ramaniya sangat takut terhadap bencong, sehingga ia tidak berani memperhatikannya lebih jauh. 
Maka menunduklah ia, fokus makan dan pura-pura tidak tahu. 
Setelah beberapa saat, ia menyadari kalau waria tersebut bukannya ngamen, melainkan memilih-milih makanan di depan rak kaca, dan Ramaniya dapat mendengar bahwa ia minta sayur sawi, tempe bacem, serta waluh. 
Lantas Ramaniya merelaksasikan lehernya yang barusan tegang dengan menengok kiri-kanan dua kali.  Waktu menoleh ke kiri untuk kedua kali, bulu kuduknya berdiri semua karena menyadari bahwa bangku kosong di sampingnya tahu-tahu saja sudah diduduki oleh sang bencong. 
Mereka benar-benar saling menatap.  Ramaniya ketakutan setengah mati hingga ia ingin muntah.  Piringnya masih tiga perempat penuh dan ia sungguh berharap dapat kabur secepat kilat.  Jadi ia alihkan matanya ke makanan lagi.  Dengan tangan gemetaran ia menyuapi diri. 
Samar tercium aroma parfum wanita dari sebelah kirinya, diiringi denting beradunya sendok-garpu dan piring.  Rasanya seluruh dunia Ramaniya adalah film thriller detik itu. 
Bagi Ramaniya, seorang bencong itu menakutkan sekaligus menambah rasa iba.  Ia sering ketakutan sendiri di jalan kalau pulang malam, sebab kadang ada waria-waria cantik yang lewat dan menggodanya.  Atau kalau mereka mengamen misalnya di jalan raya, mereka sering agak memaksa dan berbicara macam-macam untuk menakut-nakuti korbannya. 
Pokoknya, persepsi Ramaniya tentang bencong tidak pernah jauh dari negatif dan buruk dan sinonim lainnya.
“Sayur sawinya enak ya,” sebuah suara berwarna sangat lelaki tapi agak ditekan sehingga cempreng dan bercengkok manja membuat santapan Ramaniya di dalam sendok ambrol lagi ke atas piring. 
Perlahan Ramaniya menengok ke kiri.  Bencong tadi memandangi matanya lurus dan tersenyum mengerikan (di mata Ramaniya).  “Sering makan di sini, Teteh?”
Tenggorokan Ramaniya tersumbat ketakutan. 
“Eh, kok diem aja sih, Teh?  Takut ya, sama saya?” ledek si bencong.
Ramaniya menelan ludah dan demi bertahan hidup, ia berbicara, “Iya, eh, maksudnya, sering makan di sini...makanannya enak-enak, murah...”
“Murah, enak! Saya setuju, Teh. Ngomong-ngomong, kenalin,” tiba-tiba lawan bicara Ramaniya mengulurkan tangan.  Ramaniya lagi-lagi terpaksa memberi tangannya daripada mati disewotin bencong itu, yang sekarang menyebutkan namanya: “Agus!”
“R...Ra...Ramaniya,” cicit sang gadis. 
“Wah, namanya bagus banget bo! Bahasa apa? India? Ck, ck.  Tinggal di mana? Deket sini?”
Ramaniya mulai sedikit tenang walaupun masih merinding.  Tapi rupanya Agus Sang Bencong bukan teroris atau orang aneh.  Ia hanya seorang pria biasa berpenampilan feminin. 
“I...iya, kost. Kalau...Agus?”
Sebetulnya Ramaniya barusan bingung mau memanggil 'mbak' atau 'mas' atau 'teteh' atau 'aa' atau 'akang'.  Ah, dia sangat bingung hingga akhirnya hanya sanggup menyebut nama. 
“Agus mah punya tempat sendiri.  Tadi juga baru bangun tidur, sekarang mau bertugas di Dago!” sahut Agus.
“Oh,” cetus Ramaniya kehabisan kata-kata. “Eh...sendirian aja?”
“Nggak dong! Nanti ada temen Agus kok, tapi dia dari siang udah di sana.”
“Oh.”
Ramaniya bodoh! Kenapa ia hanya bisa bilang 'oh'?
Makanan di piring Ramaniya habis, sedangkan Agus belum selesai.  Sesopan mungkin, Ramaniya berkata pada teman barunya, “Eee...Agus, saya duluan ya? Selamat meneruskan makan. Hati-hati di jalan.”
Agus melongo sebentar entah kenapa.  Sepertinya ia agak kaget mendengar kata-kata cantik dari Ramaniya.  Lantas ia berkomentar genit, “Namanya bagus, orangnya baik.  Ck, ck.  Mantap bo! Makasih ya, Neng Ramanyanya! Hati-hati juga pulangnya.  Udah malem, nih!”
Ramaniya memberikan senyumnya yang terbaik sekaligus terlihat sangat salah tingkah, mengembalikan piring ke Teteh Penjaga Warteg yang masih dia lupa pula namanya, dan lari terbirit-birit menembus gelapnya malam yang dimeriahkan rintik hujan.  Jantungnya masih berdegup-degup. 
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia berkenalan dengan seorang waria bernama Agus! Teteh Agus atau Bapak Agus, entahlah. 
Tiba di kostan ia disambut oleh Emil.  Ersya-nya entah di mana. 
“Ramaniya! Kamu udah makan?”
“Udah, barusan dari Kabita…”
Butuh teman berbagi, Ramaniya langsung mengalirkan ceritanya tentang Agus kepada Emil.  Reaksi Emil ternyata di luar dugaan.  Ia sangat tenang mengutarakan:
"Lumayan, Ram, dapet temen baru."
"Idih, aku paling stres kalau ketemu waria. Serem!"
"Memang kenapa? Trauma?" 
Emil tersenyum dan menepuk pundak Ramaniya supaya anak itu agak tenang.  Lantas mereka masuk kamar masing-masing.  Ramaniya meletakkan tas ranselnya di atas ranjang dan ia mencari-cari telepon genggamnya.  Tapi aneh! Ia mengubek-ubek tas tersebut tanpa berhasil menemukan yang ia cari.  

Rabu, 13 April 2011

KISAH SATU (bag. 1)


Ramaniya menyeret-nyeret pelan kedua kakinya yang masing-masing menjepit sandal.  Kepalanya ditundukkan demi memerhatikan jalanan abu-abu yang dirintiki hujan.  Jalanan polos didepannya menjadi polkadot.  Tik.  Tik.  Tik.  Makin lama, bontol-bontolnya bertambah banyak.  Akan makan waktu berapa lama sampai seluruh jalan berubah menjadi hitam?
Adzan Sholat Isya dikumandangkan oleh dua buah mesjid.  Bertumpukan dan samar.  Sudah tidak terdengar lagi setiap suku kata yang dikumandangkan, tapi cukup membuat jalanan malam yang sepi terasa lebih aman bagi Ramaniya.
Hidup sendiri di kostan yang tidak laku membuat Ramaniya sering melewati makan malamnya seorang diri.  Isi kostannya cuma Mbak Nunik – seorang SPG, Rara – mahasiswi jurusan sastra inggris, dan sepasang kembar – Emil dan Ersya, keduanya mahasiswi jurusan desain komunikasi visual.  Oh, ditambah Teh Lulu, pembantu yang rangkap jadi penunggu rumah.  Masih tersisa 3 kamar kosong di kostannya.
Ramaniya sering makan bersama Emil dan Ersya.  Tapi malam ini, keduanya tidak ada di tempat.  Bahkan Rara yang biasanya selalu ada di kamar pun hari ini tidak terlihat.  Apa boleh buat, Ramaniya harus makan sendiri di Warteg Kabita, warteg paling lengkap dan paling enak dibanding warteg-warteg lainnya di sekitar situ.
Sandalnya akhirnya menginjak lantai warteg yang sempit.  “Makan sama apa, teh?” tanya mbak yang jaga warteg ramah.  Namanya selalu terlupakan oleh Ramaniya, padahal sudah tiga kali dia bertanya.
Matanya menjelajahi rak kaca berisi berjenis-jenis makanan.  “Perkedel sama sayur sawi aja deh.” tandasnya.
“Makan sini, Teh?”
Ramaniya mengangguk.
Warteg sedang sepi.  Mungkin karena sudah lewat jam makan malam.  Menunggu piringnya, gadis berambut ikal ini duduk di bangku panjang.  Memerhatikan mbak penjaga warung menyendoki sayur sawi.
“Mangga, Teh.”  Piring disodorkan.
“Nuhun.”
Sesendok penuh segera disuap oleh mulut laparnya.  Sendoknya belum juga keluar dari mulut ketika sesosok manusia masuk ke dalam warteg.

Cikal Bakal Alkisah

Waktu SMA, layaknya siswa yang lain, kami mengalami masa jenuh tingkat tinggi di dalam proses belajar mengajar.  Alhasil, kami main sambung frasa berbahasa Inggris.  Hasilnya? Salah grammar di mana-mana (lantaran latar belakangnya kebosanan, bukan pembelajaran) dan cerita yang nggak jelas dan ajaib. 

Cara mainnya sebagai berikut: sebelum menambahkan frasa baru, ucap ulang frasa sebelumnya.  Waktu itu kita mainnya tanpa teks.

Kalau berminat, silakan membaca ya. 

There is a nice, beautiful, and intelligent girl

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol"

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls go to the sunny beach

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls go to the sunny beach and the girl plans to go to the beach too

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls go to the sunny beach and the girl plans to go to the beach too because she has big boobs too

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls go to the sunny beach and the girl plans to go to the beach too because she has big boobs too and she wants to show her new yellow polkadot bikini

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls go to the sunny beach and the girl plans to go to the beach too because she has big boobs too and she wants to show her new yellow polkadot bikini to gets sixpack men's attention

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls go to the sunny beach and the girl plans to go to the beach too because she has big boobs too and she wants to show her new yellow polkadot bikini to gets sixpack men's attention and she almost gets it

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls go to the sunny beach and the girl plans to go to the beach too because she has big boobs too and she wants to show her new yellow polkadot bikini to gets sixpack men's attention and she almost gets it when suddenly her boyfriend call and say:

There is a nice, beautiful, and intelligent girl in the untidy but clean kitchen of my simple little house at the city of Chicago that is always terribly crowded as unbelievably delicious ice "cendol" which is Indonesian favorite traditional drink served with sweet tender gula Jawa and ice blocks and coconut milk in a big glass with terrific cheap price on the edge of Sukarno-Hatta street appears every summer when big boobs girls go to the sunny beach and the girl plans to go to the beach too because she has big boobs too and she wants to show her new yellow polkadot bikini to gets sixpack men's attention and she almost gets it when suddenly her boyfriend call and say: I love you!