Pages

Jumat, 25 Mei 2012

KISAH DUA (bag.3)


Konsentrasiku buyar sama sekali. Dalam kepalaku terbayang-bayang editan yang mesti diselesaikan, Anom yang harus dijaga, dan Pak Rusdi. Satu nama di belakanglah penyebab utamanya.
Dia datang lagi, dari masa lalu yang berusaha kutinggalkan.
Dan kini aku teringat lagi pada mata penuh misteri yang dari luar tampak berbinar, tapi sebenarnya menyimpan berbagai kisah penuh liku.
Aku heran, kenapa mata itu mesti menurun kepada Anom, yang rupanya sama sekali tidak sulit ditangani. Sesudah diberi pengertian bahwa aku ada pekerjaan, ia duduk manis dan memainkan handphone-ku yang lumayan banyak berisi games.
Barangkali Anom sudah biasa bersama ayahnya, manusia yang sepertinya lumayan sibuk. Pria yang baru kutahu ternyata sudah beranak. Karena bertahun-tahun lalu, ia cuma laki-laki pendiam tidak humoris yang masa depannya tidak jelas.
Ia memiliki sepasang mata yang sangat unik. Menarik perhatian, memancing penasaran. Mungkin, aku memang sempat terpikat pada kedalaman mata tersebut. Tetapi lama-lama aku lelah menunggu sampai aku cukup pintar dan dapat menebak apa yang sebenarnya terungkap dari matanya.
DUH! Kenapa aku jadi melankolis begini? Lebih baik aku bersikap nyata. Aku harus bekerja!
Kutengok Anom di atas sofa lobi kantor. Dia tenang-tenang saja memandangi layar telepon genggam. Anak modern. Diberi gadget langsung mingkem. Tidakkah ia tahu betapa kalutnya jiwa pengasuh bodohnya ini?
Ngomong-ngomong, seperti apa ya, ibu Anom? Apakah ia wanita yang berhasil meluluhkan seorang Pak Rusdi dan sukses menebak isi hati pria (sok) misterius itu?
Aku menggelengkan kepala keras-keras. Keterlaluan. Aku tak mungkin menyelesaikan apa-apa kalau pikiran berkelana kian kemari begini. Akhirnya kupaksakan diri fokus ke komputer lipatku, sefokus Anom. Kuuraikan masalah-masalah dalam pengeditan dan sebisa mungkin bergerak cepat.
Tapi, Anom mengejutkanku, “Kak Rini, ada telepon.”
Oh, iya,” aku menerima sodoran telepon genggam yang asyik menari-nari dan bernyanyi. Lagu kesukaanku. Tak sempat kulihat nama penerima. “Halo?”
Selamat pagi, kami dari bank...”
Tanpa banyak berpikir aku menekan tombol bersimbol merah. Pasti sebentar lagi pembicara telepon tersebut berceloteh panjang mempromosikan produk baru banknya. Anom memandangiku dengan cara yang menyerupai Pak Rusdi.
Kamu masih mau main?” aku memberikan HP-ku padanya.
Nggak, Kak.”
Kenapa? Game-nya udah habis, ya?” aku tersenyum satir. “Sekarang Anom mau ngapain?”
Ia mengangkat bahunya, bingung. Aku sama bingungnya. Lantas sejurus ide meluncur di kepalaku. “Kita jalan-jalan ke luar, yuk, lihat-lihat? Tuh, mumpung cerah.”
Anom setuju. Aku mematikan komputer lipatku, sudah tidak sanggup dan butuh tambahan oksigen—selain pikiran berantakan. Kumasukkan tas dan tahu-tahu saja aku sudah menerobos pintu kantor dan mulai celingukan ke jalanan. Di dekat sini ada kedai es krim enak yang buka dari pagi. Anak kecil pasti suka es krim!
Anom, kamu boleh makan es krim nggak, sama ayah?”
Nggak boleh, soalnya Anom baru sembuh batuk.”
Aku sudah hampir membual dan bilang bahwa es krim dapat menyembuhkan batuk, karena kurasa aku benar-benar butuh makanan dingin supaya kepalaku adem. Tapi demi kesopanan, kuurungkan niatku.
Kalau gitu yuk, kita jalan-jalan aja. Bilang kakak ya, kalau Anom pingin mampir ke salah satu toko atau pingin jajan.”
Anom nggak boleh jajan. Kata Papa, cuma boleh makan di kantin kantor Om Braman.”
Oh, oke. Kita cuma jalan-jalan sebentar, nanti jam dua belas kita makan di situ, ya, Anom?”
Ya, Kak.”
Pak Rusdi sungguh ketat dan sungguh seorang ayah. Ajaib. Aku tidak pernah menyangka dia punya sifat begitu. Setidaknya, selama aku mengenalnya dalam waktu singkat, ia bahkan tidak menunjukkan gejala sanggup menjadi seorang ayah... 
Kami berjalan cukup jauh hingga ke ujung jalan dan di perempatan, kami berputar balik karena Anom tampak lumayan capek.  "Papa pulang jam berapa, Kak?" mendadak ia bertanya.  
"Hm," aku berusaha mencari jawaban karena sejujurnya tidak tahu.  "Mungkin agak sore."
"Anom diajak ke Bandung, tapi nggak tahu kenapa Papa perlu ke sini."
"Lho? Papa nggak bilang ke Anom?"
"Nggak.  Kayaknya Papa mau ketemu orang, tapi Anom nggak kenal."
Aku mengangguk-angguk salah tingkah.  Ternyata Pak Rusdi tetap misterius.  Bahkan kepada anaknya sendiri! Dia benar-benar parah.   

Kamis, 01 September 2011

KISAH DUA (bag.2)

Besoknya, bukannya datang dengan ide permainan atau apa, aku malah datang dengan pekerjaan dadakan.  Ada yang lupa di edit.  Bukan kesalahanku.  Pihak mereka yang lupa memasukkannya ke dalam tumpukan pekerjaan.  Dan deadlinenya hebat sekali!  Nanti sore.
Aku melangkah besar-besar karena, khusus hari ini, aku pakai celana bahan.  Aku kurang suka tampilan maskulin macam ini, tapi lebih baik mungkin ada baiknya aku siap berlari kapan saja.  Siapa tahu anak titipan itu hiperaktif atau apa...
Pukul tujuh lebih lima puluh empat hak sepatuku, yang mulai tumpul ujungnya, menginjak ruang yang ditempeli pintu bernama “Braman Anjali S.E. M.M.”.
“Ni, udah sarapan?” tanya Braman saat aku menutup pintu dengan hati-hati.
“Udah... udah...  Kamu?”  Aku melenggang untuk duduk di depannya.
“Udah dong...”
“Hmm...”
Braman diam.  Aku diam.  Dia kembali membaca sebuah laporan yang terjepit di dalam map hitam.  Aku kembali teringat pekerjaanku di dalam tas.
“Bram, aku sambil nunggu sambil ngerjain kerjaan, ya...” pintaku sungkan.
“Lho?!”  Braman segera menurunkan berkas bacaannya, “Kamu ada kerjaan, Ni? Kok nggak ngomong!” protesnya dengan suara keras.  “Gimana dong?  Aduuh... sorry banget...”
Aku menggeleng dan tersenyum, “Nggak ‘pa-pa...  Cuma dikit kok.  Aku nggak ngomong soalnya ini dadakan, Bram.  Aku sendiri baru tahu tadi subuh...”
“Eh gila...  Terus?”  Alis Bram berkerut, “Deadlinenya kapan tuh?”
Sontak bahuku turun.  “Nanti sore.”  Sudah tidak kututup-tutupi lagi kekesalanku pada kondisi menyebalkan akibat kurangnya profesionalisme di tempatku bekerja.
“Gila!  Kok gitu sih?!  Ya udah, kamu beresin aja dulu kerjaannya, Ni.  Aku coba cari orang lain deh...”
“Mmm...  Memang anaknya nakal banget ya..?” tanyaku sambil menyipitkan mata.  Umur berapa sih sampe butuh ditemenin?  Aduuuh... jangan nakal dong...
“Nggak sih...  Anaknya baik kok.  Cuma agak gampang bosen aja.  Bawaannya ingin jalan-jalan melulu.  Makanya ada yang perlu ngawasin.” ungkap Braman.  Ia kembali bersandar pada punggung kursinya.
“Sip.  Aku bisa kok.” ucapku meyakinkan.
Bram menatapku ragu.  “Serius, Ni?”  Muka khawatirnya kembali nampak.
“Tenang aja...  Aku cuma perlu bikin revisi sedikit di sana-sini, terus tinggal di email, beres.”  Aku tersenyum menenangkan.
Braman terdiam menatap laporan di tangannya.
“Aku ada meeting setengah sembilan...  Nanti jam dua belas-an, aku jemput kamu berdua makan.  Selanjutnya anak itu bisa aku urus sendiri.  Aku nggak akan kemana-mana lagi abis jam makan siang.  Jadi kamu bisa pulang.”
Dasar Braman...  Dari dulu kecil, dia orangnya perhatian.  Kerjaan dia sudah pasti jauh lebih mengerikan dibanding pekerjaanku yang ringan.  Tidak seharusnya dia yang mengalah.
Aku mendesah, “Gini deh, Bram...  Kita lihat nanti.  Kalau anaknya bisa aku handle, aku bakal tetep ada disini sampe anak itu dijemput orang tuanya.  Kalau aku agak kewalahan, aku minta waktu dua jam buat kerja.  Oke?”
Bram merengut tidak setuju, tapi tidak membantah.  “Oke.  Kita lihat nanti aja.”
“Oh ya, kamu mau berangkat meeting jam berapa?”
Tok.  Tok.  Tok.
“Masuk.” ucap Braman spontan.
Kami berdua menatap ke arah pintu yang dibuka oleh seorang wanita berpakaian rapih dengan nampan berisi dua cangkir yang mengepul.  “Permisi, Pak.” kata perempuan itu dengan ramah.  Ia menaruh kedua cangkir berisi teh di hadapan kami dan membisikkan, “Silahkan.”
“’Makasih.” ucap kami berbarengan.  Lalu perempuan itu permisi pergi.  Belum juga pintu tertutup,...
“Om Braman...” panggil sebuah suara dari pintu. 
Aku segera membalikkan badan.
Di balik kusen pintu, muncul sebuah kepala yang seperti rambutan meledak.  Anak laki-laki itu bermata luar biasa.  ...Aku jatuh cinta.
Braman segera berdiri dari kursinya, “Heeey!  Masuk, Nom.”
Si “Nom” itu masuk dengan langkah tenang.  Mata besarnya hitam bercahaya dan ceria.  Dia mendekatiku, bukannya Braman.  Menyadari itu, Braman segera mengenalkanku pada anak ganteng ini.
“Ini, Kak Widarini, saudaranya Om.” ucap Braman.  Aku menghembuskan nafas lega.  Baik hati sekali dia menyebutkan “kak”, bukannya “tante”.
Aku memutar kursiku, kini menghadap Si “Nom”.
Tersenyum agak malu.  Ia mengulurkan tangan kanannya.  “Anom.”  Begitulah katanya.  Aku tersenyum lebar, penuh kebahagiaan.
“Halo, Anom.  Aku Rini.” kataku sambil menjabat tangannya yang hanya sedikit lebih kecil dari tanganku.  “Kamu kelas berapa?” tanyaku.
“Kelas empat.” jawabnya tenang.
Mulutku baru membentuk “O” dan hampir bersuara ketika, “Hey, Braman!!”.
Kami bertiga menoleh ke arah pintu.  Disana berdiri seorang laki-laki tampan yang besar dan rapih dengan setelan jas hitam.
Braman tersenyum lebar namun sopan.  Ia berjalan cepat menyongsong bosnya.  “Selamat pagi, Pak Rusdi.” ucapnya sambil menjabat tangan Pak Rusdi dengan mantap.  Syukurlah, tinggi badan mereka yang sepertinya sama membuat kepala Braman menutupiku dari pandangan Pak Rusdi.
Aku berdiri dari kursiku pelan-pelan.  Siap-siap diperkenalkan.
Braman berbalik,  tersenyum, masih sama lebarnya, kepadaku.  “Pak, ini sepupu saya, Widarini.  Ni, ini Pak Rusdi, bos-ku sekaligus bapaknya Anom.”
Aku tersenyum, walau senyumku sama sekali tidak sampai ke mata.
Pak Rusdi membelalakkan matanya.  Mata yang sama dengan Anom.  Mata yang sama dengan mata yang dulu sering kuteliti dan kuterka apa isinya.
Pak Rusdi mengerjapkan mata, lalu membuat senyum sopan.  “Halo.  Saya Rusdi.”  Ia mendekatiku hanya dengan satu langkah besar dan menjabat tanganku dengan mantap.  Tapi jemarinya mengantarkan ketidak-siapan hatinya.  Begitu juga dengan jemariku.  Kami tidak siap.  Tidak ada yang siap di dalam kejutan dan permainan nasib.

Rabu, 29 Juni 2011

KISAH DUA (bag.1)


Di bawah atap tukang fotokopi aku berteduh dari hujan rinai. Lupa bawa payung memang fatal sekali bagi penghuni negara tropis. Ah, memang sih, hujan negaraku tidak dapat diduga. Paginya cerah, siangnya bisa tiba-tiba hujan badai dibonusi butiran es.
Daripada berkeluh kesah, aku memilih untuk diam dan bersabar. Mas-mas yang sedang sibuk di depan mesin ditemani kertas-kertas dan berbagai perkakas kantor tampak tidak terpengaruh hujan sama sekali. Terdengar suara-suara listrik, dengungan, dan gesekan kertas atau gunting.
Tetapi aku hanya berfokus pada hujan. Aku ingin ia segera berhenti dan mengizinkanku pergi, karena aku benar-benar harus berangkat. Seseorang menungguku dalam kantornya di gedung berjarak tempuh dua puluh menit dari sini. Aku pengguna trotoar sejati, sehingga aku akan berjalan kaki menuju ke sana.
Hujan ini benar-benar menghambatku! Memang aroma ketika ia bersentuhan dengan tanah begitu segar...tetapi tetap saja. Terlampau lama berdiam, aku mulai termenung. Hanyut dalam lamunan tak keruan sampai akhirnya telingaku menyadari bahwa bunyi hujan sudah berhenti.
Aku pun melangkahkan kaki menuju tujuanku. Dua puluh menit kemudian, sebuah bangunan berlantai lima dengan gaya arsitektur agak kuno bercokol di depan mataku. Aku masuk melalui pintu kacanya, disenyumi oleh satpam dalam posisi istirahat di tempatnya.
Cepat aku memencet tombol elevator terdekat dan dalam sekejap sudah berada di lantai tiga. Aku berbelok ke kiri dan mengetuk pintu kedua sebelah kanan.
Masuk!” sahut seorang pria dari dalam.
Aku membiarkan pintu menjeblak dan sambil masih terengah-engah lelah, aku berkata-kata gagap, “Sori siang banget. Hujan!”
Nggak masalah.”
Laki-laki berjas biru tua itu bernama Braman. Dia kakak sepupuku. Tumben-tumbennya, mendadak ia meneleponku dan memintaku datang kemari, kantor cabang sebuah produsen makanan ringan. Katanya butuh bantuan, dan mumpung aku lagi di luar rumah ya sudah, aku tinggal ke kantor saja.
Duduk, Ni. Kamu mau minum?”
Aku menggeleng. Sembari duduk di kursi-bisa-berputar yang superbesar dan empuk, kuamati ruang pribadi kakak sepupuku. Keren juga. Aromanya enak, pajangannya berkelas...
Oh, iya, Ni, soal bantuan yang aku bilang ke kamu itu,” tukas Braman mengejutkanku. “Kamu bisa nggak, dititipin anak kecil?”
Anak kecil?”
Aku bukannya benci anak kecil, tapi kadang menjaga bocah bisa membakar kalori lebih banyak dari olahraga berat...
Iya, bosku ada seminar di Hyatt besok.  Dia bingung anaknya mau dikemanain karena kebetulan anak itu libur semesteran. Tuh anak di rumah sendiri gara-gara pembantunya juga lagi pulang kampung.  Jadi bapaknya pikir, mending ditaruh di kantor, lebih aman karena ada yang ngawasin. Sayangnya, semua orang di kantor ini sedang sibuk-sibuknya. Maklum, sebentar lagi liburan. Nah, kamu ada kegiatan besok?”
Aku terdiam menelan ludah. Kedengarannya gampang. Tapi aku harus menyiapkan mentalku. Sebagai editor freelance sebuah penerbit yang tidak terlalu ramai arus lalu lintasnya (jadi nggak banyak yang harus diedit, gitu), aku sih jelas tidak ada kegiatan. Baru saja minggu lalu pekerjaanku selesai dan belum ada yang perlu diurus lagi.
Oke, deh. Aku kosong kok,” sahutku tanpa banyak berpikir lagi. Siapa tahu anak kecilnya lucu. “Besok aku perlu ke sini jam berapa?”
Jam delapan pagi ya?” Braman tersenyum lebar. Kira-kira sepuluh senti ukuran cengirnya. “Kamu memang baik banget, Ni! Anaknya lucu kok. Dulu pernah main di sini juga.”
Aku mengulum mulutku dan membalas senyumnya. Ah, apa juga sih yang perlu ditakuti dari seorang bocah? Paling harus jaga-jaga biar dia nggak kabur. Mungkin aku harus menyiapkan permainan untuknya.  Ah, gimana besok deh! 







Jumat, 10 Juni 2011

KISAH SATU (bag.7)


Rego yang sudah siap berbalik dan kembali ke kelasnya menangkap keanehan pada Ramaniya.  “Ada apa?” tanyanya sambil duduk di bangku di depan meja Ramaniya.


Sore itu, atas saran Rego, Ramaniya pergi mencari Agus.  Memang tidak banyak yang bisa ia beri untuk Agus.  Juga akan terkesan congkak jika dia memberi Agus uang.  Jadi Ramaniya memutuskan untuk mentraktir Agus di warung Teh Laksmi.
Tidak mudah juga ternyata mencari Agus.  Setelah bertanya pada seorang banci lain, diketahui bahwa Agus punya shift malam.  Ramaniya memutar balik sepedanya sambil sibuk memikirkan cara lain.
Warteg Teh Laksmi!
Secepat motor Ramaniya melaju menuju warung Teh Laksmi.  Dan seperti dugaannya, tidak ada siapa-siapa disitu berhubung belum jam makan.
“Eh, Teteh!” sapa Laksmi.
Teh, saya mau nitip ini untuk A Agus, banci yang kemaren.” ujar Ramaniya sambil menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah.  Teh Laksmi menerimanya dengan bingung.
“Begini, saya cuma ingin nraktir A Agus, tapi saya susah ketemunya.  Jadi anggap saja saya bayarin A Agus makan pakai uang itu.  Tolong dikasih tahu ke A Agus ya.”
Teh Laksmi tersenyum, “Iya, Teh.  Pasti saya sampein.”
“Makasih, Teh Laksmi.” ujar Ramaniya dengan senyum lega.  “Oh, ya.  Tolong bilang juga, hape saya udah ketemu, gitu.”
“Iya, Teh.”
“Sama, kalau uangnya ada sisa, sisanya buat Teteh aja.”


Malam itu Agus makan dengan nikmat sekali.  Dia bisa makan banyak dengan daging, sayur, dan lainnya.  Dia yang biasanya minum teh tawar gratis, kini memesan jus.  Walau hanya hal kecil, sepiring rasa terimakasih Ramaniya membuat segala perjuangannya yang kemarin itu seperti terbayar lebih.
Dan setelah bercerita pada Ersya dan Emil, Ramaniya tidur lelap malam itu.

Tamat.

Jumat, 27 Mei 2011

KISAH SATU (bag.6)

Dua kepala, satu rasa. Itulah yang terjadi di sana momen ini. Agus dan Ramaniya sama-sama kecewa bin putus asa. Begitu pun Emil dan Ersya terduduk lemas di onggokan sofa butut ruang tamu.
Tapi...tapi...apa Neng Ramaniya hilang hape?” ujar Agus terbata-bata.
Iya, tapi itu bukan hape saya,” sahut Ramaniya.
Mereka duduk berhadap-hadapan seperti dua orang dungu. Agus melamun memandangi telepon seluler dalam genggamannya, yang sekarang lagi-lagi berstatus 'tak bertuan'. Kali ini dia sungguh ingin putus asa dan memboyong saja benda berteknologi tersebut.
Sungguh ingin Agus bercerita emosional betapa berat perjuangannya menyusuri jalan mencari Ramaniya, sampai ditolak-tolak orang segala, mirip orang ikut multi level marketing, yang kadang beruntung kadang sial dikasih bantingan pintu atau wajah curiga. Mana ia sudah merepotkan pak hansip segala.
Ramaniya begitu bahagia dan penuh harapan waktu ia melihat muka Agus di ruang tamu kosannya. Ia sudah yakin bahwa nasibnya berubah saat itu juga. Ia percaya hapenya kembali. Tapi ia malah mendapati bahwa benda yang dibawa Agus bukan miliknya.
Hape itu nemu di mana, A?” tanya Emil sopan, memecah keheningan.
Di warteg tempat tadi saya ketemu Ramaniya. Pas di bawah meja tempat dia,” jawab Agus agak ketus karena kesal.
Lalu...?”
Lalu saya bawa! Masa dibuang? Orang gila kali!
Emil dan Ersya terperanjat mendengar omelan Agus yang logatnya sangat lelaki. Lantas Ramaniya tiba-tiba menyela, “Mending hapenya dinyalain, A, terus kita cek, siapa tahu di dalamnya ada foto yang punya atau petunjuk lain. Memang nggak sopan sih, tapi kalau nggak kayak gitu, repot juga.”
Kedua belahan pinang menjentikkan jari. Agus tersenyum dan melempar hape tersebut ke tangan Ramaniya.
Biar Ramaniya aja yang urus. Saya mah nggak ngerti teknologi!”
Tapi jangan pergi dulu ya, A Agus!” Emil memohon.
Agus menggerutu sedikit. Mulai jengah. “Iya deh, iya!”
Hening lagi mereka. Agak takut, Ramaniya memencet-mencet hape tersebut. Pertama, ia mencari folder foto-foto narsis, supaya tahu wajah pemiliknya, sebab dari wallpapernya yaitu foto pemandangan matahari terbenam, ia menyimpulkan kalau orang ini tidak berapa narsis.
Benar saja, bahkan folder foto-foto narsis pun tak ada! Yang ditemukannya hanya seonggok foto-foto pemandangan. Itu saja. Ramaniya langsung tahu bahwa pencarian/ orang ini akan sulit. Akhirnya dia berkata pasrah, “Kita balikin saja ke warteg, yuk? Siapa tahu yang punya ngambil lagi ke sana.”
Emil dan Ersya berpandangan. Lalu salah satu mencetus, “Iya, syukur-syukur yang punya teringat kepada warteg. Lah kamu, Ram, kok nggak kepikir tuh hape kamu mungkin ketinggalan di warteg?”
Iya, sih, aku terlalu panik sampai ngelupain kegiatan masa lampau paling dekat...”
Agus memotong, “Jadi mau dibawa aja lagi ke warteg? Nggak apa-apa! Siapa yang besok pergi ke warteg?”
Ramaniya pun pasrah mengangkat tangannya, “Besok pagi sebelum pergi sekolah, aku bawain ke warteg deh. A Agus, sebelumnya saya minta maaf ya, karena udah ngerepotin.”
Lagi-lagi Agus trenyuh melihat muka memelas Ramaniya. Ia mengangguk pasrah. Ngomong-ngomong, Agus juga agak gelisah karena make up-nya luntur...
Dalam larutnya malam, kedua orang yang lelah itu sama-sama menghela nafas dan menghembuskannya sekencang angin Bohorok. Lantas Agus beranjak berdiri, “Ya sudah. Saya mah mau pulang dulu ya, Teteh? Nuhun pisan, sudah disambut ramai-ramai begini.”
Sekilas Ramaniya merasa tidak enak. Satu, ia sempat berprasangka macam-macam pada Agus. Dua, ternyata Agus orangnya baik sekali. Tiga, sekarang dalam keadaan kehilangan hape, ia mesti mengembalikan hape punya orang! Entah ini ironis atau hedonis atau kronis. Pusing. 
"Ramaenya, mudah-mudahan hapenya cepat ketemu ya.  Maaf nih, saya nggak bisa bantu..."
"Nggak apa-apa, A.  Aa udah baik banget kok, nganterin hape ini.  Maaf ya, ngeganggu kegiatan Aa," jawab Ramaniya. 
Sesaat Agus tersenyum ala bencong.   
Emil, Ersya, dan Ramaniya menghantar Agus ke pintu gerbang. Secepat kilat Agus hilang dari pandangan mereka, seketika sepi menghampiri. Belum apa-apa rasanya sudah rindu pula pada sosok 'meriah' itu.
Ramaniya berjalan terseok-seok lemas masuk kamarnya lagi. Besok ia harus bangun lebih pagi...


Begitu matahari menyembul menyinari kamar Ramaniya, sang mentari terkejut. Ya, Ramaniya telah menghilang dari kamarnya. Pagi sekali! Ia telah mandi dan bergegas menyiapkan keperluan sekolah lalu bersepeda ke warteg langganannya. Ia mengetuk pintu papan kayu warteg, yang bercat hijau toska pudar, berkondisi setengah terbuka. Mbak penjaga warteg sudah mulai menata makanan di balik kaca.
Teh! Puntenpermisi! Ieu jigana aya nu ketinggalan hape di dieusepertinya ada yang ketinggalan HP di sini. Kemarin dibawa sama Agus, temen saya, dikiranya hape saya, padahal bukan...,” jelas Ramaniya begitu si juru masak warteg tersebut menoleh.
Oh, si bencong eta?”
Si penjaga warteg mendekati Ramaniya dan dengan semangat menceritakan perbincangannya dengan Agus, adegan lempar-lemparan telepon genggam, sampai detik-detik kepergian Agus membawa sang hape. Ramaniya syok sendiri.
Perjuangan Agus terlalu berat kalau hasilnya hanya begini saja. Kering kerontang.
Jadi ini bukan hape Teteh? Duh, kalau gitu punya siapa atuh? Manya kudu keliling kota nyari yang punya?”
Ramaniya mengungkapkan ekspektasinya, “Mudah-mudahan sih yang punya balik ke sini, Teh. Teu nanaon, nya, titip di dieu?”
Akhirnya si Teteh mengangguk dengan seulas senyum datar. Sekarang hape itu berpindah tangan lagi kepadanya. Dipandangnya sang pelanggan berambut kriwil ini. Tiba-tiba ia sadar bahwa anak itu datang begitu pagi.
Udah sarapan belum, Teh?” ia pun bertanya. “Makan dulu, atuh?”
Ramaniya nyengir. “Belum, tapi saya mesti ke sekolah, euy. Udah, gitu dulu aja, Teh. Ngomong-ngomong Teteh namanya siapa ya?”
Saya? Laksmi!”
Ditekadkan dalam hati Ramaniya bahwa kali ini ia akan selamanya menghafalkan nama itu. Ramaniya menguraikan terima kasih dan waktu beranjak meninggalkan warteg, ia melihat sesosok orang yang dikenalnya nongol di hadapannya.
Lho, Ramaniya? Kamu baru sarapan?”
Itu adalah Mbak Nunik, sesama penghuni kostan yang semalam nampaknya tidak pulang.
Pagi, Mbak! Baru dari mana?”
Mbak Nunik mengenakan kaus oblong dan celana jins, menenteng tote bag besar menggembung, mungkin seragam kerjanya di pasar swalayan besar di Dago. Dan tanpa ditanya apa-apa, ia menyeroscos dengan logat Jawa Tengah mulai pudarnya:
Aku kemarin makan malam di warteg ini. Pas selesai makan, mau pulang ke kostan, aku cari-cari hapeku nggak ada! Makanya aku balik ke rumah temenku, siapa tahu ketinggalan di tempatnya, soalnya aku sempat mampir. Tapi nggak ada. Berhubung sudah kemaleman, ya, saya nginep dulu di sana, katanya bahaya kalau pulang larut, banyak bencong. Padahal aku udah siap meluncur ke warteg ini lho...”
Teh Laksmi histeris. Langsung ditunjukkannya hape tersebut ke Mbak Nunik, dan Mbak Nunik melompat senang sambil memekik. Memang ia orangnya ceroboh, tetapi kok, beruntung sih? Ramaniya merasa iri. Andai saja yang sedang melompat senang memekik-mekik itu dirinya. Lagipula, mengapa orang seperti Mbak Nunik, yang tenang-tenang saja dengan hapenya, malah mendapatkan kembali barangnya dengan selamat, mudah, dan damai? 
Sesudah menyaksikan penyelesaian masalah satu hari ini dan turut berbahagia, Ramaniya berjalan ke sekolahnya. Deg-degan menebak-nebak apakah ada kemungkinan hapenya tertinggal di sekolah. Dia sangat gelisah. Ia semakin berdebar saat melihat ambang pintu kelasnya. Tangannya bergetar waktu meraba laci bawah mejanya. Jantungnya berdegup waktu merasakan sesuatu bercokol di dalamnya.
Dan Ramaniya menjerit karena itu adalah kecoa! Ya ampun. Apakah ini pertanda buruk? Ramaniya lantas meletakkan tasnya, menyapa beberapa teman sekelasnya, lalu pergi ke lokasi selanjutnya. Ruang latihan band! Siapa tahu ia sedang iseng membuka tasnya di sana lalu gadget mungilnya itu terlontar keluar.
Ramaniya menelusuri ruangan berukuran sedang tersebut. Di kolong drum, kibor, di antara juntaian kabel-kabel adaptor...dan anehnya Ramaniya masih saja belum berjodoh dengan ponselnya.
Sekarang akhirnya Ramaniya betulan ingin menangis sejadi-jadinya. Sungguh. Ia harusnya lebih berhati-hati! Mestinya ia mengawasi sang hape dengan baik. Lunglai, Ramaniya berjalan kembali ke kelas. Direlakannya hape itu setulus hati.
Ia duduk di kelasnya dan mulai menyiapkan buku pelajaran. Siapa tahu ada PR yang terlupa atau apa. Tetapi ia tidak dapat berkonsentrasi dan tatapannya menerawang. Masih sedih juga rupanya.
Diingatnya Agus, yang berbaik hati mengunjungi kostannya demi mengantarkan hape. Dikenangnya Mbak Nunik tersenyum bahagia menemukan hapenya kembali. Diratapinya diri sendiri. Oh, hape, di manakah engkau berada?
Saat Ramaniya tercenung sendiri di kelas, teman bandnya, Rego, muncul tanpa disangka-sangka.
Oi! Ramaniya! Lo tuh nggak bisa jaga barang, apa? Nih, hape lo nyasar di tas gua!”
Mulut Ramaniya otomatis melongo sebesar lapangan voli (soalnya mulut Ramaniya kecil, nggak nyangup kalau mesti seukuran lapangan bola). Astaganaga! Jangan-jangan waktu menunggu saatnya latihan band, ia iseng lagi mengeluarkan hape, memainkannya tanpa sadar, dan mencemplungkannya dengan teknik salah alamat? Jika dipikir-pikir mungkin saja, karena Ramaniya memang suka tanpa sadar mengeluarkan hape tanpa tujuan kalau bosan, sekedar untuk dipegang-pegang, lalu menaruhnya begitu saja tanpa melihat lagi karena yakin pasti dimasukkan ke tas. Barangkali waktu itu Rego baru tiba, meletakkan tas di belakang Ramaniya, dan Ramaniya refleks mengembalikan hape ke tas setelah jenuh menanti Rego dan Tris...lantas bersiap membuat kegaduhan di sana, di studio...
Rego meletakkan Sang Tersangka hape Ramaniya di atas meja. “Gua nggak ngerti kenapa bisa ada di tas gua, tapi yang penting...ini barang balik ke lo.”
Perut Ramaniya dingin karena mencelos. Oh, betapa dia telah merepotkan Emil, Ersya, bahkan Agus—meski yang terakhir di luar dugaannya sama sekali.